Feeds:
Posts
Comments

Archive for the ‘Uncategorized’ Category

Final  Sotfskill  SIP Class

 

Judul   : Pengaruh Pengenalan Komputer Pada Perkembangan Psikologi Anak

Oleh    : Muhammad A.S., Army W., Aulia N

Tahun  : 2005

 

Dengan semakin meningkatnya peran komputer rumah dalam kehidupan anak-anak, dibutuhkan sebuah perhatian khusus bagaimana efek dari ini semua kepada anak-anak. Waktu yang dibutuhkan oleh anak untuk berinteraksi dengan komputer sangat mungkin menggantikan waktu anak-anak yang seharusnya dipergunakan untuk mengembangkan kemampuan dirinya baik dalam aspek kognitif maupun aspek motorik.

Meningkatnya jumlah waktu yang dipergunakan oleh anak-anak di rumah dan di sekolah dalam berinteraksi dengan komputer menimbulkan pertanyaan tentang bagaimana teknologi komputer mempengaruhi perkembangan psikologi mereka. Secara umum perkembangan anak yang diperkenalkan dengan teknologi komputer relatif lebih baik aspek-aspek tertentu pada anak-anak daripada anak-anak yang sama sekali belum dikenalkan dengan teknologi komputer.

Perkembangan dapat diartikan sebagai “perubahan yang progresif dan kontinyu (berkesinambungan) dalam diri individu mulai dari lahir sampai mati

Salah satu prinsip perkembangan adalah perkembangan merupakan proses yang tidak pernah berhenti (never ending process). Manusia secara terus menerus berkembang atau berubah yangdipengaruhi oleh pengalaman atau belajar sepanjang hidupnya. Prinsip yang lain adalah semua aspek perkembangan saling mempengaruhi, baik aspek fisik, emosi, inteligensi maupun sosial.

Pada usia sekitar 2 atau 3 tahun, anak banyak belajar mengenai berbagai macam koordinasi visiomotorik. Aktivitas-aktivitas senso-motorik telah dapat diintegrasi menjadi aktivitas yang dikoordinasi. Hal ini penting misalnya pada waktu mencontoh sebuah gambar atau sebuah benda. Apa yang dilihat dengan mata harus dapat dipindahkan dengan motoriknya menjadi sebuah pola tertentu. Sekitar tahun ke-4 semua pola lokomotorik yang biasa sudah dapat dikuasainya.

Pada perkembangannya, seorang anak akan melewati beberapa tugas perkembangan agar perkembangan fisik dan psikologinya berjalan dengan baik. Tugas-tugas prakembang pada fase kanak-kanak diantaranya adalah: mempelajari ketrampilan fisik, membangun sikap sehat untuk mengenal diri sendiri, belajar menyesuaikan diri dengan teman seusia (peer group), menggabungkan peran sosial pria dan wanita dengan tepat, mengembangkan ketrampilan-ketrampilan dasar untuk membaca, menulis dan berhitung, mengembangkan pengertian-pengertian yang diperlukan dalam kehidupan sehari-hari, mengembangkan hati nurani, pengertian moral, dan tata serta tingkatan nilai, mengembangkan sikap terhadap kelompok-kelompok sosial dan lembagalembaga, serta mencapai kebebasan pribadi.

Penelitian ini dilakukan dengan membagikan kuesioner tentang pengenalan komputer kepada anak yang diberikan kepada orang tua dari anak-anak yang dititipkan di Taman Balita Salman Al Farisi. Dari kuesioner yang telah disebarkan, diperoleh data bahwa semua anak di Taman Balita Salman Al Farisi telah diperkenalkan komputer oleh orang tuanya, baik berupa permainan computer (computer game), CD interaktif, dan Multimedia. Untuk mendapatkan data mengenai perkembangan anak, data dari kuesioner orang tua dilengkapi dengan tes perkembangan anak. Dengan demikian diharapkan akan dapat diketahui seberapa jauh perkembangan anak dan hubungannya dengan pengenalan komputer.

Alat tes yang dipergunakan untuk menentukan perkembangan anak adalah Kartu Perkembangan Anak (KPA). KPA merupakan wujud deteksi dini (screening) terhadap perkembangan anak

Hasil penelitiannya menunjukkan  bahwa anak dengan interaksi komputer yang lebih intensif menunjukkan nilai KPA dengan selisih yang cukup tinggi dari nilai standar. Sebagai contoh, subjek Rv dan Ys, dimana keduanya memiliki intensitas frekuensi lebih dari dua jam per

hari ternyata memiliki selisih nilai KPA yang cukup tinggi dari rata-ratanya.

Kesimpulannya, bahwa teknologi khususnya komputer berpengaruh terhadap perkembangan psikologi anak.

 

 

 

 

 

 

 

Judul   : Hubungan Antara Persepsi Terhadap Teknologi Komputer Dan Perilaku Disiplin   Dengan Motivasi Belajar Pada Taruna Polisi

Oleh    : Henry D.P

Tahun  : 2008

 

Komputer dipergunakan sebagai sarana untuk mencapai sasaran bidang Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK) adalah peningkatan kemampuan dengan memanfaatkan, mengembangkan, dan menguasai IPTEK dilakukan melalui peningkatan kemampuan. Alih teknologi melalui perubahan dan pembaharuan teknologi didukung oleh pengembangan yang memadai serta peningkatan mutu pendidikan sehingga mampu mendukung upaya penguasaan, pendalaman, dan perluasan industri dalam rangka menunjang proses industrialisasi menuju terwujudnya bangsa Indonesia yang maju, mandiri dan sejahtera.

Teknologi komputer dipergunakan sebagai sarana pendidikan dapat menimbulkan persepsi pada diri siswa. Persepsi tersebut dapat bersifat negatif dan positif. Siswa yang memiliki persepsi positif terhadap pendidikan komputer maka siswa tersebut akan termotivasi untuk belajar dengan memanfaatkan computer dengan sebaik-baiknya. Berlainan dengan siswa yang memiliki persepsi negatif, maka siswa tersebut kurang menyukai komputer.

Siswa dalam meningkatkan motivasi belajar perlu persepsi positif terhadap teknologi komputer, kenyataannya banyak siswa yang cenderung tidak menggunakan komputer sebagai sarana untuk belajar karena komputer difungsikan sebagai teknologi yang hanya dikuasai secara kognitif dan psikomotorik, untuk afektif tidak difungsikan.

 Peraturan di sekolah dapat dipastikan ada disiplin peraturan, sebab sekolah merupakan lembaga pendidikan. Disiplin peraturan sekolah perlu ditegakkan, karena disiplin tersebut dilakukan demi peningkatan prestasi belajar siswa. Untuk menegakkan kedisiplinan tidak cukup hanya dengan ancaman-ancaman, tetapi perlu imbangan dapat dijadikan sebagai suatu kebiasaan. Kedisiplinan bukan hanya sekedar untuk disiplin saja, melainkan juga harus dapat menunjang tujuan pendidikan. Di sisi lain perilaku disiplin yang dimiliki oleh para siswa menurut hasil beberapa berita di media cetak menyatakan bahwa siswa sekarang ini kurang berdisiplin. Hal ini merupakan permasalahan yang menarik, sebab dari perilaku disiplin akan membiasakan siswa memiliki sikap yang positif dan dapat memotivasi siswa untuk memperoleh prestasi belajar yang tinggi.

Penelitian ini dilakukan dengan membagikan kuesioner tentang persepsi, pengenalan komputer, perilaku disiplin dan motivasi belajar kepada taruna polisi. Hasil penelitiannya menunjukkan  bahwa adanya hubungan antara persepsi dengan teknologi komputer dan perilaku disiplin dengan motivasi belajar.

 

 

Judul   : Kajian Terhadap Aspek Psikologis Dalam Lingkungan Audit Sistem Informasi

Oleh     : Josua Tarigan

Tahun : 2007

 

Dalam isu sistem informasi, ada 2 isu resiko yang dapat terjadi, yakni error yang disebabkan oleh ketidaksengajaan oleh user dan yang kedua adalah fraud yang disebabkan karena kejahatan yang dilakukan oleh pihak internal organisasi bisnis. Pemahaman auditor terhadap aspek pskilogis dalam lingkungan berbasis Audit Sistem Informasi akan membantu Auditor dalam penugasan Audit terutama dalam melakukan analisa terhadap erorr dan fraud yang terjadi dalam sistem informasi organisasi bisnis sehingga sekaligus dapat memberikan rekomendasi yang tepat bagi organisasi, berdasarkan temuan-temuan yang ada dalam penugasan lapangan.

Aspek Psikologis dalam resiko error, terdapat elemen “lack of information”, “too much jargon”, “technophobia” yang seringkali dialami oleh user yang perlu dipahami oleh Auditor, sedangkan dalam resiko fraud terdapat elemen ”incentive/ pressure”, ”oppurtunity” dan ”rationalization” yang cukup signifikan mempengaruhi pola fraud yang terjadi dalam organisasi.

Menurut pakar Psikologi Roger Morrell, orang yang sudah berumur punya tingkat kesulitan lebih tinggi untuk menyeleksi informasi yang masuk, mana yang penting dan mana yang kurang penting, dibandingkan dengan orang-orang yang lebih muda umurnya. Seiring dnegan penambahan umur pada manusia, diikuti dengan penurunan kapasitas ingatan, hal ini menyebabkan, penerimaan informasi yang terlalu banyak akan mempengaruhi kemampuan para lanjut usia memproses informasi yang penting.

Aspek error merupakan isu resiko yang terdapat dalam lingkungan berbasis Audit Sistem Informasi yang disebabkan oleh ketidaksengajaan. Aspek Fraud yang merupakan isu resiko dalam lingkungan Audit Sistem Informasi. Fraud merupakan aspek yang dilakukan dengan oleh karyawan, dengan tujuan untuk keuntungan diri sendiri yang tentu saja menjadi kerugian bagi organisasi bisnis.

 

 

Computer Anxiety dan Karakteristik Tipe Kepribadian Pada Mahasiswa Akutansi

Syaiful Ali & Fadila

2008

Dalam dekade terakhir, sistem informasi berbasis komputer mengalami perubahan yang signifikan hampir di semua bidang. Tingkat pertumbuhan komputer dalam perusahaan pun terus bertambah tiap tahunnya. Hal ini dikarenakan peran teknologi komputer yang memberikan banyak kemudahan dan keuntungan dalam dunia bisnis. Memiliki keunggulan dalam bidang teknologi khususnya komputer dapat menjadi nilai tambah bagi perusahaan yang ingin memenangkan persaingan di dunia usaha yang sedemikian ketatnya. Kondisi tersebut secara langsung memberi dampak pada pola kerja sistem informasi akutansi.

Menyadari pentingnya penguasaan teknologi komputer dalam dunia bisnis, para pengajar akutansi menekankan pentingnya penggunaan komputer dan software di sebagian besar mata kuliah akutansi untuk membekali para mahasiswa sehingga dapat meningkatkan nilai jual mereka di masa depan. Hal ini dilakukan dengan mengintegrasikan penggunaan komputer ke dalam kurikulum pengajaran akutansi. Keberhasilan program pendidikan akutansi yang telah terintegrasi dengan komputer ini sangat dipengaruhi oleh sikap mahasiswa terhadap komputer.

Dalam menghadapi perkembangan baru teknologi informasi, seseorang dapat menyikapi kehadiran komputer secara berbeda dan tidak jarang disikapi dengan penolakan. Penolakan ini mungkin disebabkan oleh ketidaktahuan sederhana tentang komputer atau mungkin juga disebabkan oleh kegelisahan yang mendalam atau ketakutan berlebih terhadap teknologi komputer yang sering disebut dengan “computerphobia”. Adanya perubahan baru terkadang menimbulkan stress. Stress yang timbul dapat berupa anxiety, namun adapula yang menghadapinya sebagai tantangan. Anxiety didefinisikan sebagai perasaan yang kuat berupa ketakutan (fear) dan keprihatinan yang tidak berhubungan dengan situasi khusus yang mengancam.

Penelitian yang berkaitan dengan computerphobia dapat diklasifikasikan sebagai pengujian computer anxiety dan computer attitude. Computer attitude diartikan sebagai reaksi atau penilaian seseorang terhadap komputer berdasarkan kesenangan atau ketidaksenangan terhadap komputer. Salah satu instrumen yang dapat digunakan untuk menilai computer anxiety adalah Computer Anxiety Rating Scale (CARS) yang dikembangkan oleh Larry D. Rossen dan Michelle Weil.

Penelitian ini menguji beberapa hipotesis. Pertama, menguji hubungan antara tipe kepribadian dan anxiety mahasiswa terhadap penggunaan teknologi komputer. Kedua, menguji hubungan tingkat computer anxiety denga jenis kelamin dan ketiga menguji hubungan tingkat computer anxiety dengan IPK. Penelitian ini dilakukan di Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gajah Mada (FEB UGM) dan yang menjadi populasi dalam penelitian ini adalah seluruh mahasiswa akutansi yang masih aktif (bukan alumni) yang berjumlah 125 orang yang terdiri dari 44 pria dan 81 wanita.  

Pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan melakukan survei lapangan. Data dikumpulkan dengan cara melakukan penyebaran kuesioner secara langsung ke responden yang menjadi sampel penelitian. Untuk mengukur validitas dan reliabilitas instrumen, menggunakan pengujian koefisien korelasi Pearson dan Cronbach Alpha. Metode statistik yang digunakan untuk menguji hipotesis pertama adalah independent sample T test, sedangkan untuk menguji hipotesis kedua dan ketiga adalah chi-square.

Hasil pengujian validitas item-item pertanyaan dalam instrumen CARS dan MBTI menunjukkan nilai korelasi antara skor tiap item dengan skor keseluruhan >0,3 untuk semua itemnya. Karena instrumen memiliki korelasi >0,3 maka dapat dikatakan bahwa semua item valid. Sedangkan untuk pengujian reliabilitas instrumen menggunakan koefisien Cronbach Alpha dimana dikatakan reliabel jika koefisien >0,6. Pengujian reliabel instrumen CARS menunjukkan koefisien sebesar 0,795 dan pengujian instrumen MBTI menunjukkan koefisien sebesar 0,714 sehingga dapat dikatakan instrumen yang digunakan merupakan instrumen yang reliabel.

Penelitian ini hanya menguji hubungan tiga variabel denga computer anxiety, dan hanya satu variabel yang memiliki interaksi signifikan dengan computer anxiety, yaitu tipe kepribadian.             

 

Read Full Post »

Kecerdasan buatan (AI) mungkin satu dari perkembangan yang paling penting dari abad ini. Hal ini akan memepengaruhi kehidupan negara-negara yang memainkan peranan penting dalam perkembangan kecerdasan buatan kemudian akan muncul sebagai negara-negara adikuasa.

Sejarah Artificial Intelligence (AI)

  • Penelitian sebelum tahun 1950

Pertama; ada pekerjaan ahli logika seperti Alonzo. Church, Kurt Godel, Emil Past, dan Alan Turing. Mereka mengadakan kerja yang pertama oleh Whitehead dan Rusell, Tarski, dan Kleene. Pekerjaan ini dimulai dengan  sungguh-sungguh sejak tahun1920 dan tahun 1930. Kerja ini menolong memproduksi metode penyusunan pemikiran, bentuk logis ini dikenal sebagai proporsional dan kalkulus predikat. Ini mendemontrasikan bahwa fakta dan ide dari bahasa dapat secara formal dideskripsikan dan dimanipulasi dengan cara yang tepat Turing yang kadang-kadang dianggap sebagai bapak kecerdasan buatan, juga mendemontrasikan pada awal tahun 1936, bahwa simple computer processor dapat memanipulasi symbol-simbol seperti angka.

Kedua; bidang baru sibernetika, sebuah nama yang diciptkan oleh Nobert Wiener diberikan bersamaaan dengan banyaknya kesejajaran antara manusia dan mesin. Sibernetika, pendidikan komunikasi manusia dan mesin menjadi area research sejak tahun 1940 dan tahun 1950. Sibernetika mengkombinasikan konsep dari informasi teori, system control pengaruh arus balik, dan computer elektronik.

Ketiga; datang perkembangan baru yang dibuat dalam grammar yang formal. Pekerjaan ini adalah hasil pertumbuhan logis sejak awal tahun 1900, hal ini membantu menyediakan permulaan baru bagi teori bahasa dan bidang bahasa pada umumnya.

Akhirnya; sejak tahun 1950 program computer digital elektronik menjadi realita yang komersil. Beberapa tahun berikut ini, system prototype termasuk mark advanced relay computer (1994),ENIAC elekronik computer (1947), dan pengembangan berikutnya dari Aberdeen proving ground, dan Sperry rand’s. perkembangan penting lainnya sejak awal periode ini yang membantu kecerdasan buatan termasuk pengenalan teori informasi dikarenakan kerja Claude Shannon, teori-teori neurologis dan model-model otak yang dimulai oleh psikologi, sebagaimana pengenalan oleh Boolean Algebra, teori switching dan bahkan teori keputusan statistik.

  • Penelitian setelah tahun 1950

Sejak tahun 1950 beberapa kejadian telah terjadi, yang ditandai dengan mulainya artificial intelligence. Ini adalah periode yang terkenal dengan program permainan catur yang dikembangkan oleh para peneliti seperti Claude Shannon di MIT dan Allen Newell di RAND corporation.

Pertengahan tahun 1950, telah diakui secara resmi sebagai lahirnya artificial intelligence, disponsori oleh IBM yang diadakan di Universitas Dartmouth. Seminar pada bulan Juni 1956 dihadiri beberapa pionir muda dalam artificial intelligence termasuk Herberth Gelernter, Tren Chord More, John Mc Charthy, Marvin Minsky, Allen Newell, Nat Rochester, Oliver Selfridge, Claude Shannon, Herbert Simon.

Pada tahun 1956-1957, teori logis, salah satu dari program pertama untuk percobaan dalil otomatis, dilengkapi oleh Newell Shaw dan Simon. Sebagai bagian dari perkembangan tersebut, daftar proses bahasa yang pertama disebut IPL (Information Processing Language) yang juga dilengkapi.

Kejadian penting lainnya dalam periode ini termasuk perkembangan Fortran (mulai tahun 1954) dan hasil karya Noam Chomsky antara tahun 1955-1957 yaitu teori generative grammar.

Pada tahun 1958 ditandai dengan dimulainya perkembangan LISP oleh John Mc Carthy, satu dari program bahasa yang diakui artificial intelligence. Ini juga ditunjukkan oleh formasi Institut Massachussets Laboratorium artificial intelligence.

Tahun 1961-1965 A. L. Samuel mengembangkan program yang mempelajari memainkan checkers pada level master. J. A. Robinson memperkenalkan resolusi sebagai metode kesimpulam dalam logika pada tahun 1965. Pada tahun yang sama J. Ledenberg, Edward Feigenbaum dan Carl Djerassi mengerjakan Dendral dimulai di Universitas Stanford. Dendral adalah sistem canggih yang menemukan struktur molekul yang hanya memberikan info tentang unsur pokok senyawa dan data spectra massa. Dendral adalah pengetahuan yang pertama kali berdasarkan sistem canggih yang dikembangkan. Dan tahun 1968 Carl Engleman, William Martin, dan Joel Moses membuat Macsyma. Macysma adalah pekerjaan lanjutan Sin yaitu sebuah program pemecahan integrasi indefinite.

Artificial Intelligence dan Kognisi Manusia

Artificial Intelligence merupakan cabang dari ilmu komputer yang berhubungan dengan pengembangan komputer (perangkat keras) dan program-program komputer (perangkat lunak) yang mampu meniru fungsi kognisi manusia. Sistem memperlihatkan sifat-sifat khas yang dihubungkan dengan kecerdasan dalam kelakuan atau tindak-tanduk yang sepenuhnya bisa menirukan beberapa fungsi otak manusia, seperti pengertian bahasa, pengetahuan, pemikiran, pemecahan masalah dan lain sebagainya.

Semua orang yang merangkai model proses distribusi paralel seperti neuron, telah bekerja keras untuk mencoba menemukan solusi atas pertanyaan tentang otak sebagai mesin berpikir, dan apakah komputer mampu meniru kemampuan otak serta kognisi manusia.

Otak sebagai mesin berpikir mulai muncul setelah melalui riset psikologi selama lebih dari 1 abad, terutama melalui riset psikologi kognitif beberapa abad lalu. Apa yang kita pelajari tentang mesin berpikir (otak) berbeda secara fundamental dibandingkan dengan komputer Von Neumann. Beberapa program komputer bekerja lebih efektif daripada pikiran manusia, dan kebanyakan sangat pintar menirukan hal-hal nyata meski masih sedikit janggal. Komputer mampu memecahkan beberapa masalah, seperti sebuah soal matematika yang mendetil, lebih cepat dan lebih akurat daripada manusia. Beberapa tugas lain seperti menggeneralisasi dan memepelajari pola aktivitas yang baru, dilakukan paling baik oleh manusia, dan komputer masih kalah baik.

Sistem jaringan neuron, model-model PDP, dan hubungannya telah menggoda ilmuwan untuk menemukan prinsip komputerisasi yang memerintah jaringan neuron pada sistem saraf manusia. Mereka melakukannya dengan cara yang tampak sangat abstrak. Unit mewakili neuron, tetapi mengikuti tingkah laku neuron, yaitu unit bisa dipasangkan dengan unit yang lain. Hubungan diantara mereka bisa menguat atau melemah, lalu stabil, dan seterusnya.

 

Artificial Intelligence dan Sistem Pakar

Artificial Intelligence merupakan bagian dari ilmu pengetahuan komputer yang khusus ditujukan dalam perancangan otomatisasi tingkah laku cerdas dalam sistem kecerdasan komputer. Sistem memperlihatkan sifat-sifat khas yang dihubungkan dengan kecerdasan dalam kelakuan atau tindak-tanduk yang sepenuhnya bisa menirukan beberapa fungsi otak manusia, seperti pengertian bahasa, pengetahuan, pemikiran, pemecahan masalah dan lain sebagainya.

System pakar (expert system) yaitu suatu program yang bertindak sebagai penasehat atau konsultan pintar. Expert system dapat mengumpulkan dan menyimpan pengetahuan seorang pakar atau beberapa orang pakar ke dalam computer. Tujuan utama expert system bukan untuk memasyarakatkan pengetahuan dan pengalaman pakar-pakar yang sangat langka itu.

Expert system terdiri dari tiga komponen utama yaitu: knowledge base (pangkalan pengetahuan), motor inferensi, dan user interface. Knowledge base berisi semua fakta, ide, hubungan, dan interaksi suatu domain kecil. Motor inferensi bertugas untuk analisis pengetahuan dan menarik kesimpulan berdasarkan pangkalan pengetahuan. Software user interface berfungsi sebagai media pemasukan pengetahuan kedalam pangkalan pengetahuan dan melakukan komunikasi dengan user.

 

 

Referensi :

Chang, Chin–Liang. (1990). Pengantar Teknik Kecerdasan Buatan. Jakarta : Erlangga

Kristanto, Andri. (2004). Kecerdasan Buatan. Yogyakarta : Graha Ilmu.

Suparman. (1991). Mengenal Artificial Intelligence. Yogyakarta : Andi Offset.

Solso, Robert. L, dkk. (2007) Cognitive Psychology. Pearson Education.

Read Full Post »

DATA

          Data adalah bahan baku informasi, didefinisikan sebagai kelompok teratur simbol-simbol yang mewakili kuantitas, tindakan, benda, dan sebagainya. Data terbentuk dari karakter, dapat berupa alfabet, angka, maupun simbol – simbol khusus.

Metode Pengaksesan Data:

1.      Sequential Access Storage Device (SASD)

         SASD adalah media penyimpanan untuk mengisikan record yang diatur dalam susunan tertentu. Data pertama harus di proses pertama kali, data kedua di proses kedua kali, dan seterusnya. Contoh :

a.      Magnetic Tape

        Magnetic tape, seperti yang dipakai pada pita cassete music, hanya lebih besar. Magnetic tape mempunyai kecepatan tinggi, karenanya dihubungkan dengan storage melalui selector channel.

b.      Paper Tape

         Paper tape yang dipakai disini adalah pita kertas yang panjang tetapi tidak begitu lebar. Bila alat ini dipakai sebagai output dari proses komputer, maka pita kertas yang keluar dari alat ini adalah kertas yang sudah berlubang-lubang. Lubang-lubang itu menyatakan data yang dikeluarkan dari komputer.

         Biasanya pita kertas yang berlubang – lubang tadi itu akan digunakan untuk input ke komputer lainnya. Alat ini mempunyai kecepatan lambat, karena itu biasanya dihubungkan dengan komputer melalui byte Multi – Plexer Channel.

 2.      Direct Access Storage Device (DASD)

         DASD adalah mekanisme baca atau tulis yang diarahkan ke record tertentu tanpa pencarian secara urut. Komputer mikro memiliki disk drive dan hard disk. Contoh:

a. Magnetic Drum

    Biasanya digunakan untuk storage sementara, misalnya untuk menyimpan tabel – tabel dan hasil perhitungan sementara. Sifatnya : mempunyai kecepatan akses yang tinggi, tetapi kapasitas untuk menampung data relatif rendah.

    Magnetic drum adalah silinder yang berputar dengan kecepatan tetap dan di bagian permukaannya dilapisis bahan magnetic. Jika daerah yang dilapisi bahan tadi diletakkan di dalam medan magnit, maka daerah tadi menjadi bersifat magnit. Bila magnit dihilangkan akan timbul titik magnit yang permanen pada permukaan dari drum, sehingga diperlukan Read/Write Head tersendiri

b. Data Cell Drive

    Alat ini mempunyai kapasitas menyimpan data cukup besar, yaitu sekitar 400 juta karakter tiap data cell drive. Untuk satu drive, biasanya mempunyai 10 cell. Tiap cell terdiri dari 20 sub-cell, tiap sub-cell terdiri dari 10 strip, tiap strip mempunyai ukuran 2 inch lebar dan 12 inch panjang. 

3.      BATCH PROCESSING

         Batch Processing adalah teknik pengolahan data dengan menumpuk data terlebih dahulu dan diatur pengelompokan data tersebut dalam kelompok-kelompok yang disebut batch. Jadi, pada dasarnya sistem ini akan memproses suatu data setelah data itu terkumpul atau tertumpuk terlebih dahulu. Setiap batch ditandai dengan identitas tertentu serta informasi mengenai data-data yang terdapat dalam batch tersebut. Sistem tumpuk ini merupakan sistem pengolahan data yang paling tua meskipun juga paling populer dibanding dengan sistem yang lainnya.   

         Dalam sistem batch ini, setumpuk dokumen dikumpulkan dan dirubah ke dalam file-file input yang bisa terbaca komputer baik berupa punch card ataupun disk. File input tersebut kemudian diproses oleh Central Processing Unit (CPU) untuk menghasilkan file-file output baik dalam bentuk hard cofy, maupun file dalam media penyimpanan eksternal lain.

          Pendekatan sistem ini diterapkan untuk aplikasi yang memiliki jumlah data besar sehingga diperlukan pemeriksaan pendahuluan yang cermat sebelum data diolah. Model ini juga diterapkan dalam sistem informasi yang tidak memerlukan akses secara langsung dari waktu ke waktu melainkan dalam tingkat periode.

 4.      ON-LINE PROCESSING

         Dewasa ini jumlah perusahaan yang memilih model pengolahan transaksi on-line semakin banyak. Model on-line dapat menurunkan biaya pengolahan data, memberikan pelayanan pelanggan yang lebih baik, dan menyediakan keuntungan strategis terhadap pesaing.

          Pada sistem on-line, data diolah secara langsung oleh CPU. Dengan demikian, apabila pemakai ingin memasukkan atau akses data, permintaan akan terpenuhi dalam waktu beberapa detik. Tidak seperti pada sistem batch, sitem on-line setiap permintaan diproses secara individual. Tidak perlu menunggu sampai permintaan menjadi satu kelompok kemudian baru di proses. Sistem on-line dipilih untuk jenis transaksi langsung dimana beberapa catatan harus di proses langsung pada waktu transaksi terjadi atau pada waktu pemakai dan komputer sedang berinteraksi.

 

 

5.      REAL TIME PROCESSING

         Real Time processing adalah  suatu sistem pengolahan data yang membutuhkan tingkat transaksi dengan kecepatan tinggi. Hal ini mengingat bahwa kebutuhan transaksi harus diperoleh pada saat yang sama, sebagai bagian dari pengendalian sistem secara keseluruhan.

         Pada sistem real time, pengolahan data harus berpusat pada CPU yang relatif besar karena sistem ini didukung dengan sistem operasi yang rumit dan sistem aplikasi yang panjang dan kompleks. Hal itu juga mengingat diperlukannya memori penyimpanan yang cukup besar untuk menampung antrian data pesan-pesan dari setiap terminal.

         Sistem real time ini juga memungkinkan penghapusan waktu yang diperlukan untuk pengumpulan data dan distribusi data. Dalam hal ini berlaku komunikasi dua arah, yaitu pengiriman dan penerimaan respon dari pusat komputer dalam waktu yang relatif cepat.

         

Referensi :

  1. Suryadi. (1993). Pengenalan Komputer. Jakarta. Gunadarma.
  2. Wahyono, Teguh. (2004). Sistem Informasi. Yogyakarta. Graha Ilmu.
  3. Amsyah, Zulkifli. (2001). Manajemen Sistem Informasi. Jakarta. Gramedia Pustaka Utama.
  4. http://ilmukomputer.org/2008/11/25/konsep-data-komputer-cbis/
  5. http://fairuzelsaid.wordpress.com/2011/09/23/pengantar-teknologi-informasi-pendahuluan/
  6. http://ichnurezha.wordpress.com/2011/03/04/perbedaan-batch-processing-dan-online-processing/
  7. http://cyrillusdodi.blogspot.com/2011/11/pengertian-batch-processing.html
  8. http://wartawarga.gunadarma.ac.id/2010/12/konsep-data-mencangkup-hierarki-data-penyimpanan-dan-pengaksesan-data-pemrosesan-data-peranan-database-dan-cbms/
  9. http://tangan2cut.wordpress.com/2012/10/21/61/
  10. http://cyrillusdodi.blogspot.com/2011/11/pengertian-pemrosesan-data-real-time.html

 

Read Full Post »

Computer Based Information System (CBIS) atau yang dalam Bahasa Indonesia disebut juga Sistem Informasi Berbasis Komputer merupakan sistem pengolah data menjadi sebuah informasi yang berkualitas dan dipergunakan untuk suatu alat bantu pengambilan keputusan.

CBIS (Computer Base Information System)

  • Memberi kesempatan untuk meningkatkan komunikasi dan pengambilan keputusan dalam suatu organisasi.
  • Perancangan harus memberikan perhatian kepada tingkatan – tingkatan manajemen dan kelompok organisasi.
  • Pusat kekuatan informal dari suatu organisasi yang dapat mempengaruhi keberhasilan CBIS harus diidentifikasikan dan dimasukkan dalam perancangan.
  • Harus menjaga manajemen yang dibutuhkan oleh lingkungan dan perubahan yang mempengaruhi susunan organisasi

 

Beberapa istilah yang terkait dengan CBIS yang akan dibahas pada bagian ini antara lain adalah data, informasi, sistem, system informasi dan “basis komputer” sebagai kata kuncinya.

Data merupakan kenyataan yang menggambarkan suatu kejadian dan merupakan kesatuan nyata yang nantinya akan digunakan sebagai bahan dasar suatu informasi.

Informasi merupakan hasil dari pengolahan data menjadi bentuk yang lebih berguna bagi  yang menerimanya yang menggambarkan suatu kejadian-kejadian nyata dan dapat digunakan sebagai alat bantu untuk pengambilan suatu keputusan

Informasi merupakan proses lebih lanjut dari data dan memiliki nilai tambah. Sistem informasi dapat didefenisikan sebagai suatu sistem yang dibuat oleh manusia yang terdiri dari komponen-komponen dalam organisasi untuk mencapai tujuan dan menyajikan informasi.

Menurut M.J Alexander dalam buku information system analysis, sistem merupakan suatu group dari elemen-elemen baik yang berbentuk fisik maupun non-fisik yang menunjukkan suatu kumpulan saling berhubungan diantaranya dan berinteraksi bersama-sama menuju satu atau lebih tujuan, sasaran atau akhir dari sebuah sistem.

Sistem adalah suatu kesatuan utuh yang terdiri dari beberapa bagian yang saling berhubungan dan berinteraksi untuk mencapai tujuan tertentu.

Sistem Informasi merupakan sistem pembangkit informasi. Dengan integrasi yang dimiliki antar subsistemnya, sistem informasi akan mampu menyediakan informasi yang berkualitas, tepat, cepat dan akurat sesuai dengan manajemen yang membutuhkannya.

Sistem Informasi “berbasis komputer” mengandung arti bahwa komputer memainkan peranan penting dalam sebuah sistem informasi. Secara teori, penerapan sebuah Sistem Informasi memang tidak harus menggunakan komputer dalam kegiatannya. Tetapi pada prakteknya tidak mungkin sistem informasi yang sangat kompleks itu dapat berjalan dengan baik jika tanpa adanya komputer. Sistem Informasi yang akurat dan efektif, dalam kenyataannya selalu berhubungan dengan istilah “computer-based” atau pengolahan informasi yang berbasis pada komputer.

 

 

Sumber Referensi:

Barry E. Cushing. (1985). Accounting Information System and Business Organization. Addison. Wesley Publishing Company.

Hariningsih S. P., (2005). Teknologi Informasi. Yogyakarta. Graha Ilmu

Robert N. A & John D., (1980). Management Control System. Addison. Wesley Publishing Company.

Wahyono T., (2004). Sistem Informasi. Yogyakarta. Graha Ilmu

Y. Maryono , dan B. Patmi Istiana. (2007) Teknologi Informasi & komunikasi. Penerbit :Yudistira. (google book)

 

Read Full Post »

Siapakah penggagas dari Arsitektur Komputer itu?

Von Neumann adalah Arsitektur yang diciptakan oleh John von Neumann (1903-1957). Arsitektur ini digunakan oleh hamper semua komputer saat ini. Arsitektur von Neumann menggambarkan komputer dengan empat bagian utama, yaitu Unit Aritmatika dan Logis (ALU), unit kontrol, memori, dan alat masukan dan hasil (secara kolektif dinamakan I/O). 

Arsitektur komputer 

Arsitektur komputer adalah konsep perencanaan dan struktur pengoperasian dasar dari suatu sistemkomputer. Arsitektur komputer ini merupakan rencana cetak-biru dan deskripsi fungsional dari kebutuhan bagian perangkat keras yang didesain (kecepatan proses dan sistem interkoneksinya). Dalam hal ini, implementasi perencanaan dari masing–masing bagian akan lebih difokuskan terutama, mengenai bagaimana CPU akan bekerja, dan mengenai cara pengaksesan data dan alamat dari dan ke memori cache,RAMROMcakram keras, dll).

Arsitektur komputer juga dapat didefinisikan dan dikategorikan sebagai ilmu dan sekaligus seni mengenai cara interkoneksi komponen-komponen perangkat keras untuk dapat menciptakan sebuah komputer yang memenuhi kebutuhan fungsional, kinerja, dan target biayanya.

Arsitektur Komputer mempelajari atribut ‑ atribut sistem komputer yang terkait dengan seorang programmer.
contoh: set instruksi, aritmetilka yang digunakan, teknik pengalamatan, mekanisme I/0.

Arsitektur komputer ini paling tidak mengandung 3 sub-kategori:

Kognisi manusia

Kognisi merupakan aktivitas mental yang menggambarkan pemrolehan, penyimpangan, transformasi dan menggunakan pengetahuan (Solso, 1991).

 Kognisi berasal dari bahasa Latin cognoscere yang artinya mengetahui. Kognisi dapat pula diartikan sebagai pemahaman terhadap pengetahuan atau kemampuan untuk memperoleh pengetahuan. Untuk mengetahui lebih lanjut mengenai kognisi maka berkembanglah psikologi kognitif yang menyelidiki tentang proses berpikir manusia. Proses berpikir tentunya melibatkan otak dan saraf-sarafnya sebagai alat berpikir manusia oleh karena itu untuk menyelidiki fungsi otak dalam berpikir maka berkembanglah neurosains kognitif. Proses kognitif menggabungkan antara informasi yang diterima melalui indera tubuh manusia dengan informasi yang telah disimpan di ingatan jangka panjang. Kedua informasi tersebut diolah di ingatan kerja yang berfungsi sebagai tempat pemrosesan informasi. Kapabilitas pengolahan ini dibatasi oleh kapasitas ingatan kerja dan faktor waktu.

Kognisi adalah kepercayaan seseorang tentang sesuatu yang didapatkan dari proses berpikir tentang seseorang atau sesuatu. Kepercayaan/ pengetahuan seseorang tentang sesuatu dipercaya dapat mempengaruhi sikap mereka dan pada akhirnya mempengaruhi perilaku/ tindakan mereka terhadap sesuatu. mengubah pengetahuan seseorang akan sesuatu dipercaya dapat mengubah perilaku mereka.

Kognitif > Proses-proses yang melandasi dinamika mental meliputi beberapa proses:

  1. input eksternal
  2. atensi  selektif dan persepsi
  3. Pembentukan representasi internal (disimpan dalam memori)
  4. Pengambilan keputusan dan perencanaan
  5. Pengambilan tindakan

Kognitif berkutat dengan:

•      Cara memperoleh & memproses informasi mengenai dunia,

•      cara informasi itu disimpan & diproses oleh otak,

•      cara kita menyelesaikan masalah,

•      berpikir & menyusun bahasa.

Hubungan arsitektur computer dengan kognisi manusia?

Setiap  manusia, walau memiliki kemampuan kognisi yang luar biasa, tetap memiliki banyak kekurangan. Untuk membantu manusia dalam pekerjaannya, maka diciptakanlah berbagai teknologi yang disebut kecerdasan buatan (artifical intelegence). Dalam hal ini yang paling dikenal dengan komputer. Komputer terus berkembang, dan dibuat serupa dengan sistem kognisi manusia.  maka dibuatlah suatu rancangan bagaimana sistem kerja komputer atau Arsitektur Komputer sebagai suatu kombinasi antara pengolahan pusat dengan pengingat kontrol. Selanjutnya output dari komputer itu dapat diterima dengan baik oleh pengguna komputer. Struktur kognisi manusia merupakan bagian atau komponen yang terstruktur dalam otak manusia yang memberi pengetahuan berdasarkan sistem, skema, adaptasi, asimilasi dan akomodasi yang membentuk suatu kematangan dan pengalaman otak dalam menjalankan kehidupan sosial bagi seorang manusia.

 

Sumber referensi:

http://wasurenagusa-lina.blogspot.com/2009/06/tugas-makalah-arsitektur-komputer.html

http://tetti-ekadharma.blogspot.com/2008/11/pengertian-arsitektur-komputer.html

http://edukasi.kompasiana.com/2010/12/07/gejala-kognisi-konasi-emosi-dan-campuran/

http://nontonfilmkorea2.blogspot.com/2012/10/hubungan-arsitektur-komputer-dengan_5.html

http://ayupenyu.blogspot.com/2012/10/arsitektur-komputer-dengan-kognisi.html

http://trianiajeng.blogspot.com/2012/07/kelebihan-dan-kekurangan-dari-struktur.html

http://id.wikipedia.org/wiki/Kognisi

http://resya123.blogspot.com/2012/10/hubungan-arsitektur-komputer-dan.html

http://www.gudangmateri.com/2009/07/arsitektur-dan-organisasi-komputer.html

Sternberg, R.J. (2006) Cognitive Psychology. Belmont, CA: Thomson Wadsworth

Bjorklund, D.F (2000). Children’s thinking:developmental function and individual differences. Belmont, CA : Wadsworth

Solso, RL.(1991). Cognitive psychology. Boston: Allyu&Racon

Krech, D.; Crutchfield, R.S.; & Ballachey, E.L. (1982). Individual in Society. 12

Berkeley: McGraw-Hill International Book Company.

Read Full Post »

Sistem Informasi Psikologi

Sebelum kita mengetahui apa itu Sistem Informasi Psikologi, sebaiknya satu persatu dari kata tersebut diketahui defenisinya..

Pengertian Sistem

Menurut M.J Alexander dalam buku information system analysis, sistem merupakan suatu group dari elemen-elemen baik yang berbentuk fisik maupun non-fisik yang menunjukkan suatu kumpulan saling berhubungan diantaranya dan berinteraksi bersama-sama menuju satu atau lebih tujuan, sasaran atau akhir dari sebuah sistem.

Sistem adalah suatu kesatuan utuh yang terdiri dari beberapa bagian yang saling berhubungan dan berinteraksi untuk mencapai tujuan tertentu.

Kata Sistem awalnya berasal dari bahasa Yunani (sustēma) dan bahasa Latin (systēma).

Sistem adalah suatu kesatuan yang terdiri atas komponen atau elemen yang saling berinteraksi, saling terkait, atau saling bergantung membentuk keseluruhan yang kompleks.

Sistem adalah suatu jaringan kerja dari prosedur-prosedur yang saling berhubungan, berkumpul bersama-sama untuk melakukan suatu kegiatan atau menyelesaikan suatu sasaran tertentu.

Pengertian Informasi

Informasi merupakan hasil dari pengolahan data menjadi bentuk yang lebih berguna bagi  yang menerimanya yang menggambarkan suatu kejadian-kejadian nyata dan dapat digunakan sebagai alat bantu untuk pengambilan suatu keputusan.

Barry E Cushing mengatakan bahwa, informasi merupakan sesuatu yang menunjukkan hasil pengolahan data yang diorganisasi dan berguna kepada orang yang menerimanya.

Robert N. Anthony dan John Dearden menyebut, informasi sebagai suatu kenyatan, data, item yang menambah pengetahuan bagi penggunanya.

Informasi merupakan proses lebih lanjut dari data dan memiliki nilai tambah. Sistem informasi dapat didefenisikan sebagai suatu sistem yang dibuat oleh manusia yang terdiri dari komponen-komponen dalam organisasi untuk mencapai tujuan dan menyajikan informasi.

Informasi adalah data yang telah diproses menjadi bentuk yang memiliki arti bagi penerima dan dapat berupa fakta, suatu nilai yang bermanfaat. Jadi ada suatu proses transformasi data menjadi suatu informasi == input – proses – output .

Menurut H.M. Yogianto menyebutkan bahwa, informasi merupakan data yang telah diproses ke dalam suatu bentuk yang mempunyai arti bagi si penerima dan mempunyai nilai nyata serta terasa bagi keputusan saat itu atau keputusan yang akan datang.”

Menurut Jogiyanto H.M :“Informasi adalah data yang dapat diolah yang lebih berguna dan berarti bagi yang menerimanya”.

Pengertian Psikologi

Secara harafiah psikologi pada umumnya dimengerti sebagai “ilmu jiwa”. Pengertian ini didasarkan pada terjemahan kata yunani: psyche dan logos. Psyche berarti “jiwa” atau “nyawa” atau “alat untuk berpikir”. Logos berarti “ilmu” atau “yang mempelajari tentang”. Dengan demikian, psikologi diterjemahkan ilmu yang mempelajari jiwa.

Psikologi adalah ilmu tentang perilaku manusia dan binatang, serta penerapannya pada permasalahan manusia (Morgan, 1987).

Psikologi adalah ilmu yang mempelajari tentang perilaku dan proses mental (Santrock, 2002).

Psikologi merupakan ilmu pengetahuan mengenai tingkah laku manusia dan binatang, studi mengenai organisme dalam segala variasi dan kompleksitasnya, untuk mereaksi terhadap perubahan yang terus-menerus dan aliran dari kejadian fisik/ragawi dan peristiwa-peristiwa sosial yang menyusun lingkungnnya.

Psikologi adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari tingkah laku manusia, baik sebagai individu maupun dalam hubungannya dengan lingkungannya. Tingkah laku tersebut berupa tingkah laku yang tampak maupun tidak tampak, tingkah laku yang disadari maupun yang tidak disadari.

Menurut Wilhelm Wundt,  Psikologi merupakan ilmu pengetahuan yang mempelajari pengalaman-pengalaman yang timbul dalam diri manusia seperti perasaan panca indra, pikiran, merasa ( feeling ) dan kehendak.

 

Sistem Informasi Psikologi

Dari beberapa penjelasan diatas mengenai pengertian dari sistem dan informasi diatas, dapat disimpulkan bahwa sistem informasi psikologi adalah suatu sistem yang menyediakan informasi-informasi yang berkaitan dengan ilmu psikologi dan komputer yang dijadikan pengguna dalam pengambilan keputusan terhadap penelitian, perencanaan dan pengolaan. Contohnya komputer dijadikan sebagai alat pembantu untuk menambah informasi dan digunakan sebagai alat untuk mempermudah jika ada alat test psikologi yang memerlukan perhitungan skor dan berhubungan dengan statistik.

Sumber:

Barry E. Cushing. (1985). Accounting Information System and Business Organization. Addison. Wesley Publishing Company.

Chaplin J. P., (2009). Kamus Lengkap Psikologi. Jakarta. Raja Grafindo Persada

Hariningsih S. P., (2005). Teknologi Informasi. Yogyakarta. Graha Ilmu

Irwanto. (2002). Psikologi Umum. Jakarta. Prenhallindo

Riyanti D. B.P., Prabowo H., Puspitawati I. (1996). Psikologi Umum 1. Jakarta. Universitas Gunadarma.

Robert N. A & John D., (1980). Management Control System. Addison. Wesley Publishing Company.

Wahyono T., (2004). Sistem Informasi. Yogyakarta. Graha Ilmu

Y. Maryono , dan B. Patmi Istiana. (2007) Teknologi Informasi & komunikasi. Penerbit :Yudistira. (google book)

http://blog.unitomo.ac.id/dwicah/files/2012/05/Konsep-SI.pdf

http://kisaranku.blogspot.com/2010/10/pengertian-sistem-lengkap.html

http://f123dynaonnya.wordpress.com/2010/07/11/pengertian-informasi/

http://willis.comze.com/pengertian_informasi.html

http://yanazmi.blogspot.com/2009/04/pengertian-informasi.html

http://belajarpsikologi.com/pengertian-psikologi/

http://psikologizone.blogspot.com/2011/02/definisi-psikolog-menurut-beberapa-ahli.html

 

 

 

 

Read Full Post »

Contoh Kasus Behaviour Therapy  (Terapi Perilaku)
Contoh kasusnya:  Albert Einsten yang dikenal sebagai ahli/penemu, dengan kekurangannya dia berhasil menemukan teori relativitas yang belum tentu bisa dilakukan oleh orang normal. Disini dia memiliki potensi yang tertutupi dan tidak diketahui oleh orang lain. Ternyata dibalik itu, dia memiliki kemampuan yang tidak dimiliki oleh orang normal biasanya.
Terapi perilaku, berupaya untuk melakukan perubahan pada anak autistik dalam arti perilaku yang berlebihan dikurangi dan perilaku yang berkekurangan (belum ada) ditambahkan. Dalam terapi perilaku, fokus penanganan terletak pada pemberian reinforcement positif setiap kali anak berespons benar sesuai instruksi yang diberikan. Tidak ada hukuman (punishment) dalam terapi ini, akan tetapi bila anak berespons negatif (salah/tidak tepat) atau tidak berespons sama sekali maka ia tidak mendapatkan reinforcement positif yang ia sukai tersebut. Perlakuan ini diharapkan meningkatkan kemungkinan anak untuk berespons positif dan mengurangi kemungkinan ia berespons negatif (atau tidak berespons) terhadap instruksi yang diberikan.
Untuk menjadikan anak autis menjadi orang yang luar biasa, kita hanya perlu memberikan kasih sayang dan terapi autisme agar anak bisa berkembang dengan baik. Seperti yang telah kita ketahui, anak autis biasanya mempunyai masalah dengan perilaku dan interaksi dengan orang   lain (komunikasi). Sehingga ketika kita ingin memberikan terapi autisme pada anak kita bisa mengacu pada dua hal tersebut.

Read Full Post »

Behavioral Therapy

B F Skinner (1904 – 1990) dilaporkan bahwa ia tinggal di lingkungan keluarga yang hangat. Selama masa pertumbuhannya skinner memiliki ketertarikan yang besar dalam membangun atau membuat sesuatu, kegamaran yang terus diikutinya sampai kejenjang profesionalitasnya.
Dia mendapatkan gelar Phd Psikologinya di Universitas Harvard pada tahun 1931 dan kembali lagi ke Harvard setelah mengajar di beberapa universitas lainnya. Dia memiliki dua orang putri, salah satunya adalah seorang psikolog pendidikan dan satunya lagi adalah seorang artis.
Skinner sangat menonjol dalam bidang behaviourisme dan dianggap sebagai Bapak Psikologi Behaviourisme. Skinner yang memperjuangkan paham behavior yang radikal, yang menempatkan penekanan utamanya pada Tingkah laku sebagai Akibat / efek dari Lingkungan. Skinner juga mengutarakan bahwa dia tidak percaya bahwa manusia bebas untuk memilih. Dia mengakui bahwa perasaan dan pikiran memang ada, tetapi dia mengingkari bahwa kedua hal itu lah sebagai efek atau penyebab dari munculnya suatu perilaku. Malahan dia menekankan bahwa penyebab dari perilaku dan efek / dampak  merupakan hubugan antara objektiv, kondisi lingkungan yang dapat diamati dan perilaku itu sendiri. Skiner beranggapan bahwa terlalu banyak perhatian yang diberikan untuk keadaan internal ari pikiran dan mitivasi, yang tidak bisa diobservasi dan diubah secara langsung, dan terlalu terfokus pada apa yang diberikan untuk faktor lingkungan yang bisa diobservasi secara langsung dan diubah. Dia sangat tertarik pada konsep pemberian penguatan, yang dia aplikasikan pada kehidupannya sendiri. Sebagai contoh, setelah bekerja selama beberapa jam, dia akan pergi ke tenda nya, lalu menggunakan headphone nya dan mendengarkan music klasik (frak dattilio, komunikasi personal, 9 desember, 2006).
Perkerjaan skinner kebanyakan adalah melakuakn eksperimen di laboratoriumnya, tetapi yang liannya dia juga mengajar, mengelola masalah manusia, , dan rencana sosial. Science and Human Behaviour (Skinner, 1953) merupakan buku yang paling menggambarkan bagaimana pemikiran skinner tentang konsep perilaku dapat diaplikasikan untuk setiap dasar dari perilaku manusia. Dalam Walden II (1948) skinner menggambarkan sebuah komunitas Utopia yang merupakan pemikirannya, yang berasal dari laboratoriumnya, untuk diaplikasikan kedalam isu –isu sosial. Buku nya pada tahun 1971, beyond freedom and dignity, bertujukan keapda kebutuhan akan perubahan drastic bila masyarakat saat itu ingin bertahan hidup. Skinner percaya bahwa ilmu pengetahuan dan tehknologi menjanjikan sebauh masa depan yang lebih baik.

Albert Bandura (b. 1925)  lahir didekat Alberta, Canada, dia adalah anak termuda dari 6 bersaudara di sebauh keluarga erapa timur. Bandura menyelesaikan sekolah dasar dan menengahnya di salah satu sekolah di kotanya  yang memiliki sedikit guru dan sumber daya lainnya. Keterbatasan sumber daya ini terbukti merupakan asset bagi bandura dalam langkah awalnya mempelajari ketrampilan diri “Self – directedness” , yang nantinya kan menjadi salah satu tema penelitiannya.
Dia mendapatkan gelar Phd dalam bidang psikologi Klinis di Universitas Lowa pada tahun 1952, dan satu tahun setelahnya dia bergabung di fakultas Universitas Standford. Badnura dan rekannya menajdi pioneer alam penelitiannya tentang Model social “social modeling” dan mendemonstrasikan bahwa modeling adalah sebuah proses yang kuat yang menjelaskan berbagai macam cara atau tipe – tipe belajar (Bandura 1971a, 1971b, Bandura and Walters, 1963) didalam program penelitannya di Unversitas Stanford Bandura dan rekannya menggali lebih dalam tentang tori belajar sosial dan peran yang menonjol dari belajar observasi, belajar modeling dalam motiv motiv manusia, pikiran, dan perilakunya.
Pada pertengahan 1980 bandura mengganti nama teorinya menjadi “Teori Kognisi Sosial” yange menerangkan tentang bagaimana kita memfungsikan diri sebagai pengaturan diri, proaktiv, refleksi diri, dan pembentukan regulasi diri (bandura 1986) gagasan ini menyatakan bahwa kita bukanlah organism sederhana yang dapat dibentuk dari tekanan sosial ataupun dorongan internal yang merepresentasikan bagian dramatis dalam tahap perkembangan terapi perilaku. Bandura memperluas cakupan dari terapi perilaku dengan menggali tekanan kognitif dan afektif dan motif dari perilaku manusia.
Ada beberapa kualitas / cirri yang melekat didalam teori kognitif Bandura. Bandura membuat banyak bukti empiris yang menggambarkan bahwa kita memiliki banyak  pilihan hidup dalam semua aspek di kehidupan kita. Dalam Self-Efficacy: The Exercise Of Control (Bandura 1997) bandura memperlihatkan secara menyeluruh aplikasi dari teori efikasi diri nya kedalam area – area seperti perkembangan manusia, psikologi, psikiatri, edukasi, pengobatan dan kesehatan, atletik, bisnis, sosial dan perbahan politik dan hubungan internasional.

Bandura memfokuskan 4 area dari penelitiannya
1.    Kekuatan dari modeling sosial dalam membentuk pikiran, emosi, dan perilaku.
2.    Mekanisme dari Insytansi manusia atau bagaimana seseorang mempengaruhi motivasinya dan perilaku yang dia pilih
3.    Persepsi seseorang terhadap efikasi dirinya untuk mencoba mempengaruhi event – event mengenai hidupnya
4.    Bagaimana tekanan / stress bereaksi dan bagaimana depresi disebabkan.
Bandura membuat salah satu dari teori besar yang tetap digunakan sampai awal abad 21. Dia telah menunjukan kepada orang – orang bahwa seseorang membutuhkan efikasi diri dan ketahanan diri untuk menciptakan kesuksesan hidup dan untuk bertemu hambatan yang tidak terelakan dan tantangan yang mereka hadapi.
Bandura telah menulis 9 buku, banyak diantaranya yang sduah diterjemahkan kedalam berbagai bahasa. Di tahun 2004v dia mendapatkan penghargaan “The Outstanding Lifetime Contribution to Psychology” dari American Psychological Assosiation. Dia awal usianya yang ke 80, Bandura melanjutkan mengajar dan melakaukan penelitian di universitas Stanford dan berkeliling dunia. Dia tetap mempunyai waktu untuk naik gunung, menonton opera, ataunpun berkumpul bersama keluarganya dan mencicipi wine di Napa dan Sonoma Valleys.
Pendahuluan
Praktisi terapi perilaku berfokus pada perilaku yang dapat diamati, faktor – faktor yang menentukan perilaku, pengalaman belajar yang mempromosikan perubahan, penerapan strategi treatmen untuk klien individual, dan asesmen yang keras dan evaluasi (Kazdin, 2001; Wilson, 2008). Terapi perilaku terlalu digunakan kepada range yang luas pada penderita gangguan psikologis dengan populasi klien yang berbeda (Wilson, 2008). Gangguan kecemasan, depresi, dan kekerasan, ganguan makan, kekerasan ruamh tangga, masalah seksual, pain management, dan hipertensi telah sukses diterapi menggunakan tehnik ini. Prosedur perilaku yang digunakan didalam tehnik pembangunan dari ketidakbermampuan, penyakit mental, pendidikan, dan pendidikan khusus, komunitas psikologi, psikologi klinis, rehabilitasi, bisnis, pengaturan diri, psikologi olahraga, kesehatan yang berhubungan dengan perilaku, dan gerontology (Milenberger 2008)
Latar Belakang Sejarah
Terapi perilaku ini mulai muncul pada awal 1950 dan awal 1960, dan ini merupakan tujuan radikal dari psikologi dnegan prespektif psikoanalisa. Terapi perilaku bergerak dari terapi / perlakuan yang diaplikasikan dari prinsip Clasical conditioning dan Operant Conditioning (yang akan dijelaskan secara singkat) untuk menangani berbagai masalah perilaku. Saat ini, sanagt sulit untuk menemukan consensus dari definisi terapi perilaku karena bidang ini telah berkembang menjadi lebih kompleks / rumit dan ditandai dengan pandangan yang sama dari berbagai bidang. Sesungguhnya, sejalan dengan lambat laun dan pertumbuhan dari terapi perilaku, ini telah menutupi beberapa psikoterapi lainnya (Wilson 2008). Diskusi yang ada disini adalah  berdasarkan sejarah sketsa terapi perilaku dari Spiegler dan Guevremont’s (2003).
Terapi perilaku tradisional memunculkan stimulus di United States, Afrika Selatan, dan Inggris Raya pada 1950. Krtik yang menjengkelkan tentang pelecehan dan ketahanan dari psikoterapi perspektif psikoanalis, merupakan hal yang bertahan. Ini berfokus pada demonstrasi tehnik kondisi perilkau yang dikondisikan efektif dan alternative yang hidup untuk terapi psikoanalisis.
Pada tahun 1960 Albert Bandura membuat teori belajar sosial, yang menggabungkan klasikal dan operant conditioning dengan nelajar observasi. Bandura membuat kognisi lebih terfokus untuk terapi perilaku. Selama tahun 1960 jumlah terapi perilaku – kognitif bertambah, dan mereka tetap memiliki impact yang significan dalam percobaan terapi.
Terapi perilaku kontemporer tampil sebagai tekanan utama dalam psikologi selama tahun 1970an, dan ini memiliki impact yang signifikan untuk edukasi, psikologi, psikoterapi, psikiatri, dan perkerjaan sosial. Tehnik perilaku diperluas untuk memberikan solusi untuk bisnis, industry, dan juga untuk mengatasi masalah anak. Dikenal sebagai “Ombak Pertama” di bidang perilaku, tehnik terapi perilaku, dilihat sebagai treatment yang dapat digunakan untuk berbagai masalah psikologis.
Tahun 1980an telah dikarakteristikan dengan mencari untuk horizon baru dalam konsep dan metode yang berada dibalik teori belajar tradisonal. Terapi perilaku melanjutkan untuk subjek metode mereka untuk penyelidikan empiris dan untuk mempertimbangkan impact dari percobaan dari terapi dalam keduanya, baik klien ataupun komunitas yang lebih besar. Bertambahnya perhatian yang diberikan untuk peran emosi dalam perubahan selama proses terapi, sebaik untuk peran dari faktor biologis dalam gangguan psikologis. Dua dari perkembangan yang paling signifikan dalam bidang ini adalah (1) muncul lanjutan dari terapi perilaku kognitif sebagai kekuatan utama. (2) penerapan tehnik perilaku untuk pencegahan dan pegobatan ganguan kesehatan terkait.
Pada akhir 1990an The Association for Behavioral and Cognitive Therapies (ABCT) )dulunya dikenal sebagai The Association for Advancement of Behavior Therapy) mengklaim memiliki 4300 member. Deskripsi terkini dari ABCT adalah “keanggotaan sebuah organisasi yang lebih dari 4500 profesional dalam bidang Kesehatan mental dan pelajar yang tertarik dalam dasar empiris dari Terapi perilkau kognitif”. Nama ini berubah dan deskripsi ini mengungkapkan bahwa pemikiran terkini mengintergrasikan perilaku dan terapi kognitif. Terapi kognitif dianggap menjadi “Ombak ke dua” dari tradisi perilaku.
Pada awal 2000an, “ombak ketiga” dari tradisi perilaku muncul, memperbesar ruang lingkup penelitian dan praktek. Perkembangan terbaru ini meliputi dialectical terapi perilaku, kesadaran berdasarkan pengurangan stress, kesadaran berdasarkan terapi kognitif, dan penerimaan dan komitmen dalam terapi.
4 Area Perkembangan
Terapi perilaku kontemporer bisa dimengerti dengan memgingat 4 area utama dari perkembangan: (1) Clasical Conditoning, (2) Operant Conditioning, (3) teori belajar sosial, (4) trapi perilaku kognitif.
Classical conditioning (conditioning responden) mengacu pada apa yang terjadi pada pembelajaran sebelumnya yang menciptakan respon berpasangan yang meyeleruh. Kunci dari gamrana di area ini adalah Ivan Pavlov yang mengilustrasikan classical conditioning melalui pengalaman dengan anjing. Saat makanan berulang ali muncul dengan beberapa stimulus netral (sesuatu yang tidak mendapatkan respon tertentu), seperti suara bell, anjing itu akan mengeluarkan air liur setiap suara bell itu terdengar, bila bell terus terdengar tetapi makanantidak juga muncul, maka respon air liur anjing tersebut akan menghilang juga, sebagai contoh dari prosedur yang berdasarkan pada kondisi klasikal model dari Joseph Wolpe’s desnsitisasi sistematis, yang akan dijelaskan nanti di bab ini. Tehnik ini mengilustrasikan bagaimana prisip belajar datang dari laboratorium eksperimen yang bisa diaplikasikan secara klinis. Desensitisasi dapat diaplikasikan untuk seseoran melalui kondisi klasikal, menumbuhkan rasa takut untuk terbang setelah mengalami pengalaman menakutkan saat terbang.
Kebanyak dari respon yang signifikan yang kita buat setiap harinya adalah contoh dari perilaku operan, seperti membaca, menulis, mengemudikan mobil, dan makan dengan alat makan. Kondisi operan melibatkan tipe belajar dalam perilaku yang paling mempengaruhi  dengan konsekuensi yang mengikuti mereka. Bila lingkungan berubah karena dibawa oleh perilaku yang ditekankan bahwa, bila mereka menyediakan beberapa hadiah untuk organism atau mengurangi stimulus aversif. perubahan menambahkan bahwa perilku akan terjadi lagi. Bila lingkunagan berubah dan tidak meghasilkan tekanan atau memproduksi stimulus aversif, kesempatan berkurang dan perilaku pun akan berkurang. Penguatan negative dan positive, hukuman, dan tehnik pemadaman, dijelaskan nanti dibab ini, ilustreasi bagaimana kondisi operan dalam seting aplikasi  dapat menjadi alat dalam membangun perilaku prososial dan perilaku adaptive. Tehnik operan digunakan oleh praktisionis perilaku dalam edukasi untuk orang tua dan dengan program pengaturan berat badan.
Para ahli perilaku bai dari klasikal ataupun operan model tidak termaksud referensi untuk konsep mediasi, seperti peran dari proses berpikir, dan nilai-nilai. Focus ini mungkin karena reaksi perlawanan dari orientasi kedalam dari pendekatan psikodinamis. Pendekatan belajar sosial (atau pendekatan sosial – kognitif), dibangun oleh Albert Bandura dan Richard Walters (1963), ini adlaah interaksional, interdisipliner, dan multimodal (Bandura 1997, 1982). Teori belajar sosial dan teori kognitif mempengaruhi interaksi timbale balik triadic antara lingkungan, faktor personal (kepercayaan, preferensi, ekspektasi, persepsi diri, dan interpretasi), dan perilaku individu. Dalam pendekatan sosial kognitif, faktor lingkuangan dalam perilaku menjadi penentu utama oleh proses kognitif yang mengatur bagaimana pengaruh lingkungan yang dirasakan individu dan bagaimana peristiwa ini di tafsirkan (wilson 2008). Asumsi dasarnya adalah seseorang mampu merubah perilakunya sendiri. Untuk Bandura (1982, 1997), efikasi diri adalah kepercayaan individu atau ekspektasi bahwa dia bisa menguasai sebuah situasi dan membawa perubahan yang diinginkan. Sebuah contoh dari pembelajaran sosial adalah bagaimana seseorang dapat membangun kemampuan sosial yang efektif setelah mereka melakukan kontak dengan orang lain yang mempunya model keterampilan interpersonal yang efektif.
Terapi perilaku kognitif dan teori belajar sosial sekarang merepresentasikan aliran utama dari terapi perilaku kontemporer. Sejak awal 1970an, pergerakan psikologi perilaku telah diakui sebagai tempat berpikir resmi, walau untuk tingkatan pemberian faktor kognitif merupakan sebauh peran sentral dalam mengerti dan mentreatmen maslaah emosi dan perilaku. Pertengahan 1970an terapi perilaku kognitif telah digantikan oleh terapi perilaku sebagai penerimaan dari sebutan dan bagian ini mulai menekankan interaksi antara dimensi – dimensi afektif, perilkau, dan kognitif (Lazarus, 2003; Wilson, 2008). Sebuah contoh yang baik dari pendekatan intregativre ini adalah terapi multimodal, yang dididskusikan nanti di bab ini.  Banyak tehnik, khususnya dikembangkan dalam tiga decade terakhir ini, menekankan proses kognitif yang mempengaruhi peristiwa pribadi seperti “Client Self-talk” sebagai mediator dari perubahan perilaku
Perbedaan dari terapi perilaku dan terapi perilaku kognitif adalah jauh elbih sedikit digunakan sekarang, dan dalam realitas, lebih banyak tercampur dengan teori, praktek, dan penelitian. (Sherry Cormier, Personal communication, November 20, 2006).
Kunci Konsep
Sudut pandang  Sifat manusia
Terapi prilaku modern didasrkan kepada pendangan ilmiah sifat manusia yang menyiratkan sebuah pendekatan konseling yang sistematis dan terstruktur. Pandangan ini tidak berhenti hanya dalam Asumsi deterministic bahwa manusia adalah sekedar hasil dari kondisi sosial budaya. Sebaliknya, pandangan terkini adalah bahwa manusia adalah pencipta dan hasil dari ciptaan dari lingkungannya,
Tren terkini dalam terapi perilaku adalah menuju prosedur perkembangan yang memang memberikan control untuk klien dan dengan demikian meningkatkan rentang kebebasan. Terapi prilaku bertujuan untuk meningkatkan kemampuan seseorang sehingga mereka memiliki pilihan yang lebih banyak dalam merespon sesuatu. dengan mengatasi perilaku melemahkan yang membatasi pilihan, orang bebas untuk memilih dari kemungkinan yang tidak tersedia sebelumnya, meningkatkan kebebasan individu (kazdin, 1978, 2001). Ini memungkinkan untuk membuat sebuah kasus untuk menggunakan metode perilaku untuk mencapai tujuan kemanusiaan. (kazdin, 2001; Watson & Tharp, 2007)
Karakteristik dasar dan asumsi
6 kunci karakteristik dari terapi perilaju digambarkan sebagai berikut :
1.    Terapi perilaku merupakan dasar dalam prinsip dan prosedur metode ilmiah. prinsip eksperimen berasal dari pembelajaran secara sistematis diterapkan untuk membantu orang mengubah perilaku maladaptif mereka. karakteristik yang membedakan dari praktisi perilaku adalah kepatuhan sistematis mereka untuk presisi dan evaluasi empiris. perilaku negara tujuan terapis pengobatan dalam hal tujuan konkret untuk membuat replikasi dari tekanan masyarakat mungkin. tujuan pengobatan yang disepakati oleh klien dan terapis. sepanjang perjalanan terapi, terapis prosedur ketetapan dan pengobatan dinyatakan secara eksplisit, diuji secara empiris, dan direvisi terus-menerus.
2.    penawaran terapi perilaku dengan masalah klien saat ini dan faktor-faktor yang mempengaruhi mereka, mungkin sebagai lawan dari analisis determinan sejarah. penekanan pada faktor-faktor spesifik yang mempengaruhi fungsi ini dan faktor apa yang dapat digunakan untuk mengubah kinerja. pada pemahaman dari masa lalu yang  menawarkan informasi berguna tentang peristiwa lingkungan berhubungan dengan perilaku ini. terapis perilaku melihat ke peristiwa lingkungan saat ini yang menjaga masalah perilaku Dan membantu klien menghasilkan perubahan perilaku dengan mengubah peristiwa lingkungan, melalui proses yang disebut penilaian fungsional, atau yang disebut oleh Wolpe (1990) sebagai “analisis perilaku”
3.    klien yang terlibat dalam terapi perilaku diharapkan untuk mengasumsikan peran aktif dengan terlibat dalam tindakan spesifik untuk menangani masalah mereka. bukan hanya berbicara tentang kondisi mereka, mereka diminta untuk melakukan sesuatu untuk membawa perubahan. klien memonitor perilaku mereka baik selama dan di luar sesi terapi, belajar dan berlatih keterampilan coping dan peran perilaku bermain baru. tugas terapi yang klien melaksanakan dalam kehidupan sehari-hari, atau pekerjaan rumah, adalah bagian dasar dari pendekatan ini, dan belajar dipandang sebagai inti dari terapi. klien belajar perilaku baru yang adptive untuk mengganti perilaku lama yang maladaptif.
4.    Pendekatan ini mengasumsikan bahwa perubahan dapat terjadi tanpa wawasan tentang dinamika yang mendasarinya. terapis perilaku beroperasi pada premis bahwa perubahan perilaku dapat terjadi sebelum atau bersamaan dengan pemahaman tentang diri sendiri, dan bahwa perubahan perilaku juga dapat menyebabkan tingkat peningkatan pemahaman diri. meskipun benar bahwa wawasan dan pemahaman tentang kontinjensi bahwa masalah exacebate seseorang dan cangkul mengetahui berubah. mengetahui bahwa seseorang memiliki masalah dan mengetahui bagaimana untuk mengubahnya adalah dua hal yang berbeda (Martell, 2007)
5.    fokusnya adalah pada penilaian perilaku terbuka langsung, mengidentifikasi masalah, dan mengevaluasi perubahan. ada penilaian langsung dari masalah target melalui observasi atau pemantauan diri. terapis juga menilai budaya klien mereka sebagai bagian dari lingkungan sosial mereka, termasuk jaringan dukungan sosial yang berkaitan dengan perilaku sasaran (Tanaka-Matsumi, Higginbotham, & Chang, 2002). penting untuk pendekatan perilaku adalah penilaian hati-hati dan evaluasi intervensi yang digunakan untuk menentukan apakah perubahan perilaku yang dihasilkan dari prosedur.
6.    intervensi pengobatan perilaku yang dirancang secara individual untuk masalah spesifik yang dialami oleh klien. beberapa teknik terapi dapat digunakan untuk mengobati masalah individu klien. pertanyaan penting yang berfungsi sebagai panduan untuk pilihan ini adalah: “perawatan apa, oleh siapa, yang paling efektif untuk individu dengan masalah khusus dan di mana set keadaan?” (Paul, 1967, hal. 111)

Proses Terapi
Tujuan Terapi
Tujuan untuk menduduki tempat penting pusat dalam terapi perilaku. tujuan umum dari terapi perilaku adalah meningkatkan pilihan pribadi dan untuk menciptakan kondisi baru untuk belajar. klien, dengan bantuan terapis, mendefinisikan tujuan pengobatan spesifik pada awal proses terapi. meskipun penilaian dan pengobatan terjadi bersamaan, sebuah penilaian formal yang terjadi sebelum perawatan untuk menentukan perilaku yang menjadi sasaran perubahan. penilaian terus-menerus sepanjang terapi menentukan sejauh mana mengidentifikasi tujuan terpenuhi. penting untuk memikirkan cara untuk mengukur kemajuan menuju tujuan berdasarkan validasi empiris.
Terapi perilaku kontemporer menekankan klien berperan aktif dalam menentukan tentang pengobatan mereka. terapis membantu klien dalam merumuskan tujuan terukur tertentu. tujuan harus jelas, konkrit, dipahami, dan disetujui oleh klien dan counsoler. konselor dan klien mendiskusikan perilaku yang terkait dengan tujuan, keadaan yang dibutuhkan untuk perubahan, sifat sub tujuan, dan rencana aksi untuk bekerja ke arah tujuan ini. ini proses penentuan tujuan terapi memerlukan negosiasi antara klien dan konselor yang menghasilkan kontrak yang memandu jalannya terapi. perilaku terapis dan klien mengubah tujuan selama proses terapi yang diperlukan.

Fungsi Terapi dan Peran
Terapis perilaku melakukan seluruh penilaian fungsional (atau analisis perilaku) untuk mengidentifikasi kondisi menjaga dengan pengumpulan informasi secara sistematis tentang anteseden situasional, dimensi dari masalah prilaku, dan konsekuensi dari masalah. ini dikenal sebagai Model ABC, yang membahas anteseden, perilaku, dan konsekuensi. model perilaku menunjukkan bahwa perilaku (B) dipengaruhi oleh beberapa peristiwa tertentu yang mendahuluinya, yang disebut anteseden (A), dan oleh peristiwa tertentu taht mengikutinya disebut konsekuensi (C). yang anteseden peristiwa taht menyembuhkan atau menimbulkan perilaku tertentu. misalnya yang klien yang memiliki masalah tidur, mendengarkan kaset relaksasi dapat berfungsi sebagai isyarat untuk induksi tidur. mematikan lampu dan menghilangkan televisi dari kamar tidur dapat menimbulkan perilaku tidur juga. konsekuensi peristiwa taht mempertahankan perilaku dalam beberapa cara baik dengan meningkatnya decrrasing itu. misalnya, klien mungkin lebih mungkin untuk kembali setelah konseling konselor menawarkan pujian verba atau dorongan karena telah datang dalam atau setelah menyelesaikan beberapa pekerjaan rumah. klien mungkin kurang kemungkinan untuk kembali ke konseling setelah konselor secara konsisten terlambat untuk sesi. dalam melakukan wawancara penilaian, tugas terapis adalah untuk mengidentifikasi anteseden tertentu dan peristiwa yang akibatnya mempengaruhi atau secara fungsional terkait dengan perilaku seorang individu itu (Cormier, nurius & Osborn, 2009).
Perilaku berorientasi praktisi cenderung aktif dan direktif dan berfungsi sebagai konsultan dan pemecah masalah. mereka memperhatikan petunjuk yang diberikan oleh klien, dan mereka bersedia untuk mengikuti firasat klinis mereka. praktisi perilaku harus memiliki keterampilan, kepekaan, dan kecerdasan klinis (wilson 2008). mereka menggunakan beberapa teknik umum dengan pendekatan lain, seperti meringkas klarifikasi,, refleksi, dan terbuka – pertanyaan berakhir. Namun, klinisi perilaku menjalankan fungsi lain juga (Miltenberger, 2008; spielger & Guevremont, 2003)
5.    berdasarkan penilaian fungsional yang komprehensif, terapis merumuskan tujuan pengobatan awal dan desain dan mengimplementasikan rencana perawatan untuk mencapai tujuan tersebut
6.    para klinisi menggunakan strategi perilaku yang memiliki dukungan penelitian untuk digunakan dengan jenis tertentu dari masalah. strategi ini digunakan untuk mempromosikan generalisasi dan pemeliharaan perubahan perilaku. sejumlah ini stategies diuraikan kemudian dalam bab ini.
7.    Klinisi itu menilai keberhasilan jika rencana perubahan dengan mengukur kemajuan menuju tujuan sepanjang durasi pengobatan. ukuran hasil yang diberikan kepada klien pada awal teh pengobatan (disebut baseline) dan dikumpulkan lagi secara periodik selama dan setelah perawatan untuk menentukan apakah strategi dan rencana pengobatan yang bekerja. jika tidak, penyesuaian amde dalam strategi yang digunakan.
8.    Tugas penting terapis adalah melakukan tindak lanjut penilaian untuk melihat apakah perubahan yang tahan lama dari waktu ke waktu. Klien belajar cangkul untuk mengidentifikasi dan mengatasi punggung set potensial. Penekanannya adalah pada membantu klien mempertahankan perubahan dari waktu ke waktu dan memperoleh keterampilan coping perilaku dan kognitif untuk mencegah kambuh.
Pengalaman Klien dalam Terapi
Salah satu keunikan dari terapi perilaku adalah terapi ini menyediakan terapis dengan sistem yang sangat baik dari prosedur pekerjaan. Keduanya baik terapis ataupun klien memiliki peran yang jelas, dan kepentingan klien dan partisipasinya dalam terapi sangat ditekankan. Terapi perilaku adalah terapi yang memiliki ciri dimana keduanya dari klien ataupun terapi harus berperan aktif dalam sesi terapi . bagian dari terapis adalah kemampuan untun mengajarkan, memberikan instruksi, menjadi contoh  dan memberokan feedback pada klien. Klien sendiri terlibat dalam latihan perilaku dengan diberikan timbale balik oleh terapisnya sampai kemampuan tersebut dipelajari dengan baik dan biasanya klien mendapatkan pekerjaan rumah seperti self monitoring dll yang harus dilengkapi selama sesi terapi. Martell (2007) menekankan bahw perubahan  yang klien buat dalam terapi harus ditafsirkan kedalam kehidupan sehari –harinya . klien harus termotivasi untuk berubah dan ingin bekerjasama dalam aktifitas terapi. Kalau klien tidak aktif dalam terapi kemungkinana berhasilnya sangat kecil. Bagiamanapun juga strateegi perilaki lain bila klien tidak aktif adalah memberikan dukungan empiris yang memotivai klien dan meningkatkan motivasi klien setiap waktu (Cormier at al, 2009).
Klien didorong untuk mengalami dengan tujuan      memperluas daftar perilaku adaptive nya. Konseling tidak lengkap bila aksi tidak dikuti dengan verbalisasi. Sesungguhnya, itu ketika transfer dari perubahan dibuat dari sesi untuk kehidupan sehari-hari dan ketika efek terapi yang melampaui pemutusan bahwa pengobatan dapat dianggap sukses (Granvold & Wodarski, 1994). Klien harus memilki keinginan untuk membuat perubahan dan melanjutkan melaksanakan prilaku barunya setelah treatmen telah selesai dilakukan.

Hubungan antara terapis dan klien
Klinisi dan peneliti memperlihatkan perkiraan bukti bahwa dalam sebuah hubungan terapi, walupun dalam konteks orientasi perilaku, bisa berkontribusi secara significkan untuk proses dari perubahan perilaku itu sendiri (Granvold & wodarski 1994). Kebanyak praktisi perilaku menekankan pada nilai – nilai yang mengembangkan kolaborasi antara hubungan kerja . Lazarus berpendapat bahwa irama dari interaksi terapi dengan klien dari individu ke individu ataupund ari satu sesi ke sesi lainnya. Keterampilan yang dimiliki terapis terkonsep maslaah kerberlakuan dan membuat hubungan antara terapis dengan klien untuk memfasilitasi perubahan.
Seperti yang akan kamu ingat, terapi ekperimen menjadi penekanan utama dalam hubuangan alami antara terapis dengan klien. Sebaliknya, kebanyak praktisi perilaku terdiri dari fakor –faktor seperi kehangatan, empati, autentikasi, dan lain lain. Hubungan antara klien dan terapis merupakan starategi untuk membantu klien membangun perubahan dan pergi kearah yang benar.
APLIKASI : tenik terapi dan prosedur.
Kekeuatan dari pendekatan perilaku adalah pembangunan prosedur terapi yang spesifik yang harus memperlihatkan efektifita dan objektif. Sebual Hallmark dalam pendekatan perilaku sudah sangat jelas. Mengacu pada Arnold Lazarus seorang pioneer dalam terapi perilaku klinis kontemporer, praktisi prilaku bisa berkoorperate didalam rencana treatemen mereka dengan banyak technique yang didemonstrasikan untuk perubahan prilaku yang efektif. Tehnik terapi prilaku dapat diaplikiasikan dengan digabung bersama dengan pendekatan lainnya.
Prosedur terapi yang digunakan dalam tehnik terapi perilaku, di desain lebih spesifik untuk klien dari pada mengambil tehnik dari sisi lain. Terapis terkadang sangat kreativ dalam membuat intervensinya. Diseksi ini telah dijelaskan rentang dari terapi prilaku yang tersedia untuk praktisioner : tehnik relaxi, terapi exposures, analisis perilaku, disendtisisasi sistematis, test kemampuan sosial, terapi multimodal, dan prosedur lainnya,. Tehnik –tehnik ini tidak mengambarkan spektrumn utuh dari prosedur terapi perilaku, melainkan mereka merepresentasikan sampel dari berbagai macam pendekatanyang digunakan dalam terapi perilaku kontemporer.

Mengaplikasikan Analisis Perilaku : Tehnik Kondisi Operan
Beberapa kunci dalam prinsip Kondisi Operan adalah : pengutan positif, penguatan negative, pemadaman, hukuman positif, dan hukuman negative. Unutk detail lebih lanjut tentang metode treatment kondisi operan , dirokemendasikan buku Kazdin (2001) dan Miltenberger (2008).
Dalam pengaplikasian analisis perilaku, tehnik kondisi operan dan metode asesmen serta evaluasi diaplikasikan kedalam rentang skala yang luas dan kedalam banyak variasi masalah dan keadaan (kazdin, 2001). Kontribusi yang paling penting dalam pengaplikasian analisis perilaku adalah fungsi pendekatan untuk memahami masalah klien dan menujukan masalah ini untuk perubahan antiseden dan konsekuensinya (Model ABC).
Para ahli perilaku percaya bahwa respon mereka dalam cara prediksi karena pengutan positif yang pernah dirasakan ataupun kerena kebutuhan untuk menghindar atau pun kerana penguatan yang negative. Setelah tujuan klien telah dinilai, targetnya adalah perilaku yang spesifik. Target dari penguatan, baik positif ataupun negative, adalah untuk meningkatkan perilaku yangtelah ditargetkan. Pengutan positif melibatkan tambahan – tambahan yang bernilai untuk klien (seperti pujian, uang, makanan) atau konsekuensi untuk beberapa perilaku spesifik. Stimulus yang mengikuti perilaku adalah penguatan positif.
Penguatan negative meliputi “escape” dari atau pengelakan dari stimulus yang tidak diinginkan. Individu memotivasi perilaku yang diinginkan untuk menghindari kondisi yang tidak diinginkan. Contoh : teman saya tidak suka terbangun karena mendengar bunyi alarm, maka dia mencoba mengkondisikan dirinya untuk bangun lebih sebelum alarm berbunyi untuk menghindari terbangun karena bunyi alarm tersebut.
Metode lainnya dari operan untuk mengubah perilaku adalah pemadaman, yang mengacu untuk mengurai penguatan dari respon pengutan sebelumnya. Dalam seting pengaplikasiannya, pemadaman bisa digunakan untuk perilaku yang telah di atur oleh penguatan positif atau penguatan negative. dalam kasus anak-anak yang menampilkan amarah, orang tua sering memperkuat perilaku (tantrum) dan penguatan positif (perhatian). hal itu dapat mengurangi atau menghilangkan perilaku tersebut melalui proses kepunahan. perlu dicatat bahwa kepunahan juga mungkin memiliki efek samping negatif, seperti kemarahan dan agresi. kepunahan dapat mengurangi atau menghilangkan perilaku tertentu, tetapi kepunahan tidak menggantikan respon-respon yang telah dipadamkan. untuk alasan ini, kepunahan yang paling sering digunakan dalam program modifikasi bahavior dalam hubungannya dengan strategi penguatan berbagai (Kazdin, 2001).
Cara lain perilaku di control dengan menggunakan hukuman, terkadang mengacu sebagai control aversi, yang berkonsekuensi terhadap beberapa hasil perilaku dalam mengurangi perilaku tersebut. Target dari penguatan adalah untuk meningkatkan perilaku, tetapi target dari hukuman mungkin saja sebagai konsekuensi dari perilaku : hukuamn positif dan negative. Dalam hukuman positif sebuah stimulus aversif ditambahkan setelah perilaku untuk mengurangi frekuensi dari dari perilaku yang menjadi target. Dalam hukuman yang negative, stimulus penguatan di hilangkan mengikuti perilaku untuk mengurangi frekuensi dari perlikau yang menjadi target. Dari kedua tipe hukuman tersebut, perilaku kurang mungkin terjadi di masa depan. Ke empat prosedur kondisi operan ini dari program dasar terapi perilaku untuk pelatihan keahlian ornag tua dan juga dalam prosedur pengaturan diri.
Skinner (1948) percaya bahwa hukuman memiliki batas nilai dalam merubah perilaku dan bisanya sebuah cara yang tidka diinginkan untuk memodifikasi perilaku. Dia melawan untuk menggunakan control aversive dari pemberian hukuman,  dan merekomendasikan untuk menggunakan penguatan positif. Kunci dari prinsip dalam pengaplikasian pendekatan analisis perilaku adalah untuk menggunakan cara yang mungkin untuk mengubah perilaku, dan penguatan positif disebut sebagai cara yang paling kuat/tepat. Skinner meyakini dalam nilai analisis faktor lingkungan untuk kedua penyebab dan pengobatan untuk masalah perilaku dan berpendapat bahwa keuntungan yang paling baik untuk individual dan masyarakat terjadi dengan menggunakan sistem penguatan positif sebagai sebuah rute untuk mengontrol perilaku (Nye, 2000).
Dalam kehidupan sehari – hari, hukuman biasanya digunakan sebagai sarana untuk balas dendam ataupun ekpresi frustrasi. Bagaimanapun juga, seperti Kazdin (2001) terangkan, “hukuman dalam kehidupan sehari – hari tidak seperti untuk mengajarkan suatu pelajaran atau menekankan perilaku yang tertahan karena dari hukuman yang spesifik yang digunakan dan bagaimana mereka mengaplikasikannya”. Walaupun dalam kasus tersebut saat hukuman menekankan pada respon yang tidak dinginkan, hukuman tidak menghasilkan pelajaran perilaku yang diinginkan. Hukuman harus digunakan hanya setelah pendekatan yang tidak menyenangkan telah diimplemantasikan dan ditemukan tidak efektif dalam perubahan masalah perilaku (kazdin, 2001; Miltenberger, 2008) ini penting bahwa penguatan digunakan sebagai cara untuk mengembangkan perilaku yang sesuai yang menggantikan perilaku yang dapat menekan.
Training relaksasi dan metode terkait
Pelatihan relaksasi telah meningkay popularitasnya sebagai sebuah metode pengajaran untuk mengatasi stress yang diakibatkan oleh kehidupan sehari-hari. Ini bertujuan pada memperoleh relaksasi metal dan otot dan ini mudah dipelajari. Setelah klien belajar dasar dari relaksasi, penting bagi mereka untuk mempraktekan latihan ini setiap harinya untuk mendapatkan hasil yang maksimal.
Jacobson (1983) dikreditkan dengan awalnya mengembangkan prosedur relaksasi otot progresif. Ini telah diperhalus dan dimodifikasi, dan prosedur relaksasi seringkali digunakan dalam kombinasi dengan beberapa tehnik – tehnik perilaku lainnya. Termaksud sistem desensilisasi, pelatihan pernyataan, program pengaturan diri, rekaman audio yang memandu prosedur relaksasi, meditasi, dan latihan autogenic.
Pelatihan relaksasi melibatkan beberapa komponen yang dibutuhkan 4 – 8 jam dalam instruksinya. Klien diberikan sebuah set dari instruksi yang mengajarkan mereka untuk relaks. Klien menganggap posisi passive dan relaks diadalam sebuah lingkuangan yang sepi selama menyebarkan kedalam otot secara bergantian. Relaksasi otot progressive ini secara eksplicit mengajarkan kepada klien oleh terapis. Nafas yang dalam dan biasa juga berhubungan dengan produksi relaksasi. Pada saat yang sama klien belajar secara mentak untuk “Melepaskan”. Mungkin dengan berfokus pada pikiran atau membanyangakan sesuatu yang menyenangkan. Klien diinstruksikan untuk benar-beanr merasakan dan mengalami ketegangan yang meninggi, untuk memberitahu bahwa otot mereka telah menjadi semakin ketat dan mempelajari tegangan ini, dan untuk bertahan dan merasakan secara utuh tekanannya. Juga, ini berguna untuk klien yang kemudia tau bagaimana untuk merelaksasikan seluruh otot saat memvisualisasikan beberapa bagian tubuh, yang menekankan pada otot wajah. Otot tangan di relaksasikan terlebih dahulu, diikuti dengan kepala, leher dan bahu, punggung, perut, dan dada dan lalu anggota tubuh paling rendah. Relaksasi telah menjadi respon yang baik, yang bisa menjadi kebiasaan bial di praktekan setiap hari selama kira-kira 25 menit setiap harinya.
Sistematis desensitization, yang didasarkan pada prinsip pengondisian klasik, adalah prosedur dasar perilaku yang dikembangkan oleh Yusuf wolpe, salah satu pelopor terapi perilaku. Klien bayangkan berturut-turut lebih banyak kecemasan membangkitkan situasi pada saat yang sama bahwa mereka terlibat dalam perilaku yang bersaing dengan kecemasan. Secara bertahap, atau secara sistematis, klien menjadi kurang sensitif terhadap kecemasan yang membangkitkan situasi. Prosedur ini dapat dianggap bentuk pemaparan terapi karena klien diharuskan untuk mengekspos diri mereka sendiri untuk menimbulkan kecemasan gambar cara untuk mengurangi kecemasan.
Sistematis desensitization adalah terapi perilaku secara empiris diteliti prosedur yang memakan waktu, namun jelas pengobatan yang efektif dan efisien kecemasan terkait disorders, terutama di wilayah fobia spesifik. Sebelum menerapkan prosedur desensitization, terapis melakukan wawancara awal untuk mengidentifikasi informasi spesifik tentang kecemasan dan untuk mengumpulkan informasi tentang klien latar belakang yang relevan. Wawancara ini, dimana beberapa sesi, memberikan terapis pemahaman yang baik tentang siapa klien adalah. Terapis pertanyaan klien tentang keadaan-keadaan tertentu yang menimbulkan ketakutan terkondisi. Beberapa terapis juga mengelola kuesioner untuk mengumpulkan data tambahan tentang situasi menuju kecemasan.
Jika keputusan dibuat untuk menggunakan prosedur desensitization, terapis memberikan klien sebuah alasan untuk prosedur dan menjelaskan secara singkat apa yang terlibat. McNeil dan kyle (2009) menggambarkan beberapa langkah dalam penggunaan sistematis desensitization: 1) relaksasi pelatihan, 2) pengembangan kecemasan hierarcy dan, 3) sistematis desensitization yang tepat.
Langkah-langkah dalam relaksasi pelatihan, yang telah dijelaskan sebelumnya, disajikan kepada klien. Terapis menggunakan suara yang sangat tenang, lembut dan menyenangkan untuk mengajar relaksasi otot progresif. Klien diminta untuk membuat citra sebelumnya lapangan. Sangat penting bahwa klien mencapai keadaan tenang dan kedamaian. Klien diperintahkan untuk relaksasi praktek baik sebagai bagian dari prosedur desensitization dan juga di luar sesi sehari-hari.
Terapis kemudian bekerja dengan klien untuk mengembangkan hirarki kecemasan untuk masing-masing daerah diidentifikasi. Stimuli yang mendapatkan kecemasan di daerah tertentu, seperti penolakan, kecemburuan, kritik, penolakan, atau fobia apapun, dianalisis. Terapis membangun daftar peringkat situasi yang menimbulkan peningkatan derajat kecemasan atau menghindari. Hierarki diatur dalam urutan dari situasi terburuk klien dapat membayangkan ke situasi yang membangkitkan sedikit kecemasan. Jika telah menentukan bahwa klien memiliki kecemasan terkait dengan takut ejeksi, misalnya, situasi penghasil kecemasan tertinggi mungkin penolakan oleh pasangan, berikutnya, penolakan oleh seorang teman dekat, dan kemudian penolakan oleh seorang rekan kerja. Situasi yang paling tidak mengganggu mungkin asing u2019s % ketidakpedulian terhadap klien di sebuah pesta.
Desensitization tidak dimulai sampai beberapa sesi setelah wawancara awal telah selesai. Cukup waktu yang diperbolehkan untuk klien untuk mempelajari relaksasi dalam sesi terapi, berlatih di rumah, dan untuk membangun hirarki kecemasan mereka. Terapis bergerak semakin naik hierarki sampai klien sinyal bahwa dia mengalami kecemasan, pada saat adegan diakhiri. Relaksasi kemudian diinduksi lagi, dan memperkenalkan adegan adalah kembali lagi sampai sedikit kecemasan berpengalaman untuk itu. Inti dari sistematis desensitization adalah paparan berulang-ulang dalam imajinasi untuk membangkitkan kecemasan situasi whitout mengalami konsekuensi negatif.
Klien cenderung memberikan keuntungan lebih besar ketika mereka memiliki berbagai cara untuk mengatasi situasi membangkitkan kecemasan yang mereka dapat terus digunakan setelah terapi telah berakhir mcneil dan kyle (2009).
Sistematis desensitization adalah teknik yang sesuai untuk mengobati fobia, tetapi itu adalah kesalahpahaman yang dapat diterapkan hanya untuk pengobatan kecemasan. Ini juga telah digunakan untuk mengobati berbagai macam kondisi di samping kecemasan, termasuk kemarahan, serangan asma, insomnia, gerakan penyakit, mimpi buruk, dan berjalan dalam tidur (spiegler, 2008). Secara historis, desensitization mungkin memiliki rekam jejak terpanjang teknik perilaku dalam berurusan dengan ketakutan, dan hasil positif yang telah didokumentasikan berulang kali McNeil dan kyle (2009). Sistematis desensitizations ini sering dapat diterima kepada klien karena mereka secara bertahap dan simbolis terkena kecemasan-membangkitkan situasi. Perlindungan adalah bahwa klien mengendalikan proses dengan pergi dengan langkah mereka sendiri dan mengakhiri eksposur ketika mereka mulai mengalami lebih banyak kecemasan dari mereka ingin mentolerir (spiegler & amp; guevremont, 2003).
banjir dan paparan pada vivo
Paparan terapis yang dirancang untuk mengobati lain ketakutan dan negatif respon emosional dengan memperkenalkan klien , di bawah hati-hati kondisi terkontrol untuk situasi yang telah berkontribusi pada masalah semacam . Eksposur adalah kunci proses dalam mengobati berbagai masalah terkait dengan rasa takut dan kecemasan . Paparan sistematis terapi melibatkan konfrontasi dengan stimulus yang ditakuti , baik melalui imajinasi atau di vivo ( live ) . Desensitization merupakan salah satu jenis paparan terapi , tapi ada orang lain . Dua variasi sistematis tradisional desensitization berada dalam paparan vivo dan banjir .
IN VIVO EXPOSURE: In vivo eksposur melibatkan eksposur klien untuk membangkitkan kecemasan peristiwa aktual daripada hanya membayangkan situasi ini. Hidup paparan yakin telah landasan terapi perilaku selama beberapa dekade (hazlett-stevens & amp; crakes, 2003). Bersama-sama, terapis dan klien menghasilkan hirarki situasi untuk klien untuk bertemu dalam aascending orger kesulitan. Klien terlibat secara ringkas dan lulus serangkaian eksposur terhadap peristiwa-peristiwa yang ditakuti. Klien dapat mengakhiri eksposur jika mereka mengalami tingkat tinggi kecemasan. Seperti halnya dengan sistematis desensitization, klien belajar bersaing tanggapan yang melibatkan relaksasi otot. Sebagai contoh, terapis bisa pergi dengan klien dalam lift jika mereka memiliki fobia menggunakan elevator. Diri mengelola in vivo eksposur-a prosedur di mana klien mengekspos diri mereka sendiri untuk membangkitkan kecemasan kegiatan mereka sendiri-adalah sebuah alternatif ketika tidak praktis untuk terapis harus dengan klien dalam situasi kehidupan nyata.

FLOODING: bentuk lain dari eksposur terapi adalah banjir, yang mengacu pada in vivo atau imajinal terpapar membangkitkan kecemasan rangsangan untuk jangka waktu, seperti yang merupakan karakteristik dari semua eksposur terapi, meskipun pengalaman klien kecemasan selama eksposur, konsekuensi ditakuti tidak terjadi. Banjir in vivo terdiri dari intens dan berkepanjangan terpapar sebenarnya memproduksi kecemasan rangsangan. Sisa terpapar ditakuti rangsangan untuk periode berkepanjangan tanpa terlibat dalam kecemasan yang mengurangi perilaku memungkinkan kecemasan untuk mengurangi sendiri. Secara umum, sangat takut klien cenderung untuk mengekang kecemasan mereka melalui penggunaan dari perilaku maladaptive. Banjir, klien dicegah dari terlibat dalam tanggapan maladaptive kecemasan membangkitkan situasi mereka biasa. Banjir in vivo cenderung mengurangi kecemasan cepat.
Imajinal banjir adalah berdasarkan prinsip akrab dan mengikuti prosedur yang sama kecuali eksposur terjadi di klien imajinasi bukan dalam kehidupan sehari-hari. Banjir sering digunakan dalam pengobatan perilaku kecemasan terkait disorders, fobia, obsessive compulsive disorder, posttraumatic stress disorder, dan agoraphobia.
Eksposur berkepanjangan dan intens dapat kedua cara efektif dan efisien untuk mengurangi kecemasan klien. Namun, karena dari ketidaknyamanan yang terkait dengan paparan berkepanjangan dan intens, beberapa klien mungkin tidak memilih perawatan eksposur ini. Hal ini penting untuk terapis perilaku untuk bekerja dengan klien untuk membuat motivasi dan kesiapan untuk pemaparan. Klien harus membuat keputusan setelah mempertimbangkan pross dan kontra menundukkan diri untuk aspek-aspek yang sedang stres perawatan.
Penelitian menunjukkan bahwa paparan terapi consistenly dapat mengurangi klien tingkat rasa takut dan gelisah ( tryon , 2005 ) . Paparan suara keberhasilan terapi dalam mengobati berbagai gangguan telah mengakibatkan paparan yang digunakan sebagai bagian dari sebagian besar perilaku dan perilaku kognitif pengobatan untuk kecemasan gangguan ( mcneil & amp ; kyle , 2009 ) . Spigler dan guevremont ( tahun 2003 ) menyimpulkan bahwa paparan terapi itu adalah hal yang paling ampuh prosedur perilaku yang tersedia untuk gangguan kecemasan terkait , dan mereka akan bertahan lama efek . Namun , mereka menambahkan , menggunakan paparan sebagai satu-satunya pengobatan protap ini tidak selalu cukup banyak . Dalam kasus yang melibatkan parah dan gangguan multifaceted , lebih dari satu perilaku intervensi ini sering diperlukan . Semakin imaginal dan pada vivo paparan sedang digunakan dalam kombinasi , yang cocok dengan tren dalam terapi perilaku untuk menggunakan paket perawtan sebagai suatu cara untuk meningkatkan efektivitas terapi .
Desensitization gerakan mata dan pengolahan
Desensitization herakan mata dan pengolahan (EMDR) adalah bentuk terapi eksposur yang melibatkan imajinal banjir, kognitif restrukturisasi dan penggunaan gerakan cepat, berirama mata dan lainnya bilateral rangsangan untuk memperlakukan klien yang telah mengalami stres traumatice. Dikembangkan oleh Francine Shapiro (2001), prosedur ini terapeutik yang menarik dari berbagai perilaku intervensi. Dirancang untuk membantu klien dalam berurusan dengan posttraumatice stres gangguan, (EMDR telah diterapkan untuk berbagai populasi termasuk anak-anak, pasangan, korban pelecehan seksual, veteran pertempuran, korban kejahatan, perkosaan, selamat, dan orang-orang yang berurusan dengan kecemasan, panik, depresi, kesedihan, kecanduan, dan fobia.
Shapiro (2001) menekankan pentingnya keselamatan dan kesejahteraan klien ketika menggunakan pendekatan ini. EMDR mungkin tampak sederhana untuk beberapa, tapi etis penggunaan tuntutan prosedur pelatihan dan klinis supervision.because reaksi yang kuat dari klien, sangat penting bahwa praktisi tahu bagaimana aman dan efektif mengelola kejadian-kejadian ini. Terapis tidak boleh menggunakan prosedur ini kecuali mereka menerima pelatihan dan pengawasan dari instruktur EMDR resmi. Diskusi yang lebih lengkap dari prosedur ini perilaku dapat ditemukan di Shapiro (2001, 2002a).
Ada beberapa kontroversi Apakah gerakan mata sendiri menciptakan perubahan, atau penerapan teknik kognitif dipasangkan dengan mata gerakan bertindak sebagai agen perubahan. Dukungan empiris untuk EMDR telah dicampur, yang membuatnya sulit untuk menggambar bentuk kesimpulan tentang keberhasilan atau kegagalan ini intervensi (McNeil & amp; Kyle, 2009). Dalam menulis tentang masa depan EMDR, prochaska dan Norcross (2007) membuat beberapa prediksi: peningkatan jumlah praktisi akan menerima pelatihan di EMDR; hasil penelitian akan terang pada EMDR % u2019s efektivitas dibandingkan dengan terapi lain saat ini untuk trauma; dan penelitian lebih lanjut dan praktek akan memberikan rasa efektivitas dengan gangguan selain posttraumatic stress disorder.
pelatihan keterampilan social
Pelatihan keterampilan sosial adalah kategori luas yang berkaitan dengan kemampuan individu untuk berinteraksi secara efektif dengan orang lain dalam berbagai situasi sosial; Hal ini digunakan untuk memperbaiki defisit klien memiliki dalam interpersonal kompetensi (spiegler, 2008). Keterampilan sosial melibatkan mampu berkomunikasi dengan orang lain dalam cara yang tepat dan efektif. Beberapa aspek yang diinginkan dari pelatihan ini adalah bahwa ia memiliki dasar yang sangat luas dari penerapan dan dapat dengan mudah disesuaikan dengan kebutuhan individu klien (segrin, 2003). Pelatihan keterampilan sosial adalah kemarahan manajemen pelatihan, yang dirancang untuk individu yang memiliki masalah dengan perilaku agresif. Pernyataan pelatihan, yang digambarkan berikutnya, adalah untuk orang-orang yang kekurangan keterampilan tegas.
PERNYATAAN pelatihan: Salah satu bentuk khusus pelatihan keterampilan sosial yang telah mendapatkan popularitas meningkat adalah mengajar orang mengalami kesulitan perasaan sesuai atau kanan untuk menyatakan diri mereka sendiri. Orang-orang yang tidak memiliki keterampilan sosial sering mengalami kesulitan interpersonal di rumah, di tempat kerja, di sekolah, dan selama waktu luang. Pernyataan pelatihan dapat berguna bagi mereka (1) yang mengalami kesulitan mengekspresikan kemarahan atau iritasi, (2) yang memiliki kesulitan mengatakan tidak, (3) yang terlalu sopan dan memungkinkan orang lain untuk mengambil keuntungan dari mereka, (4) yang merasa sulit untuk mengekspresikan kasih sayang dan tanggapan positif lainnya, (5) yang merasa mereka tidak memiliki rigt untuk mengekspresikan pikiran, keyakinan dan perasaan, atau, (6) yang memiliki fobia sosial.
Mendasari asumsi dasar pernyataan pelatihan adalah bahwa orang-orang memiliki berhak (tetapi tidak berkewajiban) untuk mengekspresikan diri mereka. Pernyataan pelatihan didasarkan pada prinsip-prinsip teori pembelajaran sosial dan menggabungkan banyak keterampilan sosial metode pelatihan. Umumnya, terapis mengajarkan maupun model perilaku yang diinginkan klien ingin memperoleh. Perilaku ini dipraktekkan di kantor terapi dan kemudian diberlakukan pada kehidupan sehari-hari. Program-program pelatihan efektif pernyataan lebih memberi orang keterampilan dan teknik untuk menghadapi situasi sulit. Program ini menantang keyakinan masyarakat yang menemani kurangnya ketegasan dan mengajar mereka untuk membuat pernyataan-pernyataan diri yang konstruktif dan untuk mengadopsi satu set keyakinan yang akan menghasilkan perilaku yang tegas.
Pernyataan pelatihan sering dilakukan dalam kelompok. Ketika format grup digunakan, pemodelan dan petunjuk yang disajikan kepada seluruh kelompok, dan anggota berlatih keterampilan perilaku dalam peran situasi. Setiap anggota engges di lebih lanjut latihan tegas perilaku sampai keterampilan dilakukan secara memadai dalam berbagai situasi simulasi (Miltenberger, 2008).
Karena pernyataan pelatihan didasarkan pada pengertian barat dari nilai ketegasan, itu mungkin tidak cocok untuk klien dengan latar belakang budaya yang menempatkan lebih menekankan pada harmoni daripada menjadi tegas. Meskipun konselor dapat beradaptasi formulir ini prosedur pelatihan keterampilan sosial sesuai dengan gaya mereka sendiri, sangat penting untuk menyertakan perilaku latihan dan terus-menerus penilaian sebagai dasar aspek dari program. Jika Anda tertarik untuk belajar lebih banyak pernyataan kereta ing, berkonsultasi dengan hak Anda sempurna: sebuah panduan untuk tegas perilaku (Alberti & amp; Emmons, 2008).
modifikasi perilaku diarahkan pada program diri sendiri
Psikolog yang berbagi perspektif ini prihatin terutama dengan mengajar orang keterampilan yang mereka akan perlu untuk mengatur kehidupan mereka sendiri secara efektif. Keuntungan dari teknik modifikasi diri adalah bahwa perawatan dapat diperluas untuk masyarakat dengan cara yang tidak dapat dilakukan dengan pendekatan tradisional untuk terapi. Keuntungan lain adalah bahwa biaya minimal. Karena klien memiliki peran langsung dalam perawatan mereka sendiri, teknik aimedat diri mengubah cenderung untuk meningkatkan keterlibatan dan komitmen untuk pengobatan mereka.
Termasuk modifikasi diri strategi diri pemantauan , hadiah , diri kontrak , diri kendali stimulus , dan diri sebagai model . Ide dasar diri modifikasi kajian dan kegiatan adalah bahwa perubahan dapat dibawa oleh mengajar orang untuk menggunakan mengatasi keterampilan dalam situasi . bermasalah Generalisasi dan pemeliharaan hasil yang diperkuat mendorong klien untuk menerima tanggung jawab untuk melaksanakan strategi ini dalam kehidupan sehari-hari .

Dalam program modifikasi diri sendiri orang membuat keputusan tentang perilaku spesifik yang mereka ingin kontrol atau ubah. orang sering menemukan bahwa alasan utama bahwa mereka tidak mencapai tujuan mereka adalah kurangnya keterampilan tertentu atau harapan yang tidak realistis. berharap dapat menjadi faktor terapi yang mengarah pada perubahan, tapi harapan tidak realistis dapat membuka jalan bagi pola kegagalan dalam program perubahan diri sendiri. suatu pendekatan langsung kepada diri sendiri dapat memberikan pedoman untuk perubahan dan rencana yang akan Membawa Perubahan. bagi orang yang berhasil dalam program seperti ini, analisis yang cermat dari kontekspola perilaku sangat penting, dan orang harus bersedia mengikuti beberapa langkah dasar seperti yang disediakan oleh Watson dan Tharp(2007) :

9.    memilih tujuan. tujuan harus ditetapkan satu per satu, dan mereka harus terukur, dapat dicapai, positif dan signifikan bagi orang tersebut. adalah penting bahwa harapan yang realistis.
10.    menerjemahkan tujuan ke dalam perilaku sasaran. perilaku identitas ditargetkan untuk perubahan. begitu target untuk perubahan yang dipilih, antisipasi hambatan danmemikirkan cara-cara untuk menegosiasikan mereka
11.    pemantauan diri sendiri. dengan sengaja dan sistematis mengamati perilaku Anda sendiri, dan menulis buku harian perilaku, merekam perilaku bersama dengan komentar tentang isyarat yg relevan dan konsekuensi.
12.    bekerja di luar rencana untuk perubahan. merencanakan suatu program tindakan untuk membawa perubahan yang sebenarnya. berbagai rencana untuk tujuan yang samadapat dirancang, yang masing-masing bisa efektif. beberapa jenis sistem penguatan diri sendiri diperlukan dalam rencana ini karena bala bantuan merupakan hal terpenting dalam terapi perilaku modern. penguatan diri sendiri adalah strategi sementara yang digunakan sampai perilaku baru telah diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.mengambil tindakan untuk memastikan bahwa prestasi akan dipertahankan.
13.    mempelajari rencana tindakan. mengevaluasi rencana perubahan untuk menentukan apakah tujuan yang ditetapkan tercapai, dan menyesuaikan dan merevisi rencana sebagai cara lain untuk memenuhi tujuan dipelajari. evaluasi adalah proses yang berkelanjutan bukankejadian satu kali, dan perubahan diri sendiri adalah praktek seumur hidup.
Banyak orang yang mengembangkan beberapa jenis program modifikasi pertemuan diri sendiri berulang kali gagal, situasi Polivy dan herman (2002) sebut sebagai”sindrom harapan palsu,” yang merupakan ditandai dengan expetations realistismengenai kecepatan mungkin, jumlah, kemudahan dan konsekuensi dari perubahan upaya diri sendiri.upaya perubahan diri sendiri sering menemui kegagalan sejak awal oleh harapan yang tidak realistis, tetapi individu sering terus mencoba dan mencoba dengan harapanbahwa mereka akhirnya akan berhasil dalam mengubah pola perilaku. banyak orangmenafsirkan kegagalan mereka untuk berubah sebagai hasil dari upaya yang tidak memadai atau terlibat dalam program yang salah.
Strategi modifikasi diri telah berhasil diterapkan untuk penduduk dan masalah, beberapayang termasuk mengatasi serangan panik, membantu anak untuk mengatasi takut akangelap, meningkatkan produktivitas kreatif, mengelola kecemasan dalam situasi sosial, mendorong berbahasa didepan kelas ,meningkatkan olahraga, pengendalian darimerokok, dan berurusan dengan depresi(Watson & Tharp, 2007). penelitian tentang modifikasi diri sendiri telah dilakukan di berbagai macam masalah kesehatan, beberapa diantaranya termasuk radang sendi, asma, kanker, penyakit jantung,penyalah gunaan narkoba, diabetes, sakit kepala, kehilangan penglihatan, gizi, dan perawatan kesehatan diri (Cormier et al. 2009).

Multimodal therapy :clinical behaviour  therapy
Multimodal terapi adalah,komprehensif sistematis, holistik, pendekatan terapi perilaku dikembangkan oleh Arnold Lazarus (1976,1986,1987,1992 sebuah, 1992b, 1992c,1997a, 2005,2008). itu didasarkan pembelajaran sosial dan teori kognitif dan berlakuteknik perilaku yang beragam untuk berbagai masalah. pendekatan ini berfungsisebagai penghubung utama antara beberapa prinsip perilaku dan pendekatan perilaku kognitif yang telah banyak menggantikan terapi perilaku tradisional.
Terapi multimodal adalah sistem terbuka yang mendorong eklektisisme teknis. teknik baru terus-menerus diperkenalkan dan teknik yang sudah ada disempurnakan, tetapi mereka tidak pernah digunakan secara tabur. terapis multimodal  berusaha keras untuk menentukan secara tepat apa hubungan dan keadaan apa. asumsi yang mendasari pendekatan ini adalah bahwa karena individu yang terganggu oleh berbagaimasalah tertentu adalah tepat bahwa banyak strategi pengobatan digunakan dalam membawa perubahan. fleksibilitas terapeutik dan keserbagunaan, bersama denganluasnya lebih dari mendalam, sangat dihargai, dan ahli terapi multimodal terus-menerus menyesuaikan prosedur mereka untuk mencapai tujuan klien. terapis harus memutuskankapan dan bagaimana menjadi menantang atau mendukung, dingin dan panas, formal dan informal, dan keras atau lunak(Lazarus,1997a,2008).
Terapis multimodal cenderung sangat aktif selama sesi terapi, berfungsi sebagai pelatih, pendidik, konsultan dan model peran. mereka memberikan informasi, instruksi dan umpan balik serta model bahaviors tegas. mereka menawarkan kritik contructive dan saran, bala bantuan positif dan tepat diri – pengungkapan.
Lazarus (2008) berpendapat: “multimodal terapis berlangganan tidak ada dogma selain prinsip-prinsip parsimoni teoritis dan efektivitas terapi” (hal.396). teknik dipinjam dari berbagai sistem terapi lainnya. mereka mengakui bahwa banyak klien datang untuk terapi perlu belajar keterampilan, dan mereka bersedia untuk mengajar, pelatih, kereta api, model dan mengarahkan klien mereka. terapis multimodal biasanya berfungsi directively dengan memberikan informasi, instruksi dan reaksi. mereka menantang diri sendiri keyakinan, menawarkan umpan balik konstruksi, memberikan penguatan positif dan secara tepat pengungkapan diri. adalah penting bahwa terapis mulai di mana klien dan kemudian pindah ke daerah produktif lainnya untuk eksplorasi. kegagalan untuk memahami situasi klien dengan mudah dapat meninggalkan perasaan klien terasing dan disalahpahami (Lazarus, 2000).
ATAS DASAR I.D. inti dari pendekatan multimodal Lazarus adalah premis bahwa kepribadian kompleks manusia dapat dibagi menjadi tujuh bidang utama fungsi: B= Behavior ,A= Affective Responses, S= sensations, I=images C= Cognitions ,I= interpersonal relationshipsand D= drugs, biologis fungsi, gizi dan olahraga (Lazarus, 1989,1992 a, 1992b, 1997a, 1997b, 2000,2006,2008). meskipun modalitas yang interaktif, mereka dapat dianggap fungsi diskrit.

pengandaian    perilaku    Pertanyaan untuk bertanya
behavior    terang-terangan perilaku, termasuk tindakan, kebiasaan dan reaksi yang dapat diamati dan terukur    Apakah anda ingin berubah?
seberapa aktif Anda?
apa yang akan Anda ingin lakukan?
apa yang akan Anda ingin berhenti melakukan ?
apa saja kekuatan utama Anda?
perilaku apa yang membuat anda ingin lakukan?
affect    emosi, suasana hati dan perasaan yang kuat    Apakah emosi anda yang sering anda alami?
apa yang membuat Anda tertawa?
apa yang membuat Anda menangis?
apa yang membuat Anda sedih, marah, senang, takut?
emosi apa yang bermasalah untuk Anda?
sensation    dasar indera sentuhan, rasa, bau, penglihatan, dan pendengaran    Penderitaan apa yang tidak menyenangkan, seperti sakit, sakit, pusing, dan sebagainya?
apa yang Anda sangat suka atau tidak suka dalam cara melihat, mencium, mendengar, menyentuh, dan mencicipi?

imagery    bagaimana kita membayangkan diri kita, termasuk mimpi kenangan dan khayalan    apa saja mimpi berulang mengganggu dan kenangan hidup?
apakah Anda memiliki imajinasi yang jelas?
bagaimana Anda melihat tubuh Anda?
bagaimana Anda melihat diri Anda sekarang?
bagaimana Anda ingin mampu melihat diri Anda di masa depan?
Cognition    wawasan, filosofi, ide, pendapat, self-talk, dan penilaian yang merupakan nilai dasar seseorang, sikap, dan keyakinan    apa saja cara agar Anda memenuhi kebutuhan intelektual Anda?
bagaimana Anda pikiran Anda mempengaruhi emosi Anda?
apa nilai dan keyakinan yang paling Anda kasihi?
apa saja hal-hal negatif yang Anda katakan kepada diri Anda sendiri?
apa saja keyakinan pusat Anda rusak?
apa keharusan utama oughts dan keharusan dalam hidup Anda?
bagaimana Anda memperoleh itu di dalam cara hidup efektif?
Interpersonal relationship    Interaksi dengan banyak orang    seberapa banyak makhluk sosial kan?
untuk apa gelar yang Anda inginkan keintiman dengan orang lain?
apa yang Anda harapkan dari orang-orang penting dalam hidup Anda?
apa yang mereka harapkan dari Anda?
apakah ada hubungan dengan orang lain yang anda berharap untuk berubah?
jika demikian, apa jenis perubahan yang Anda inginkan?
Drugs/ biology    obatdan kebiasaannya gizi dan pola latihan    apakah Anda sadar kesehatan?
apakah Anda mempunyai keprihatinan apapun tentang kesehatan Anda?
apakah Anda mengambil obat yang diresepkan?
apa kebiasaan anda berhubungan dengan diet, olahraga dan kebugaran fisik?
Terapi multimodal dimulai dengan penilaian yang komprehensif dari tujuh modalitas fungsi manusia dan interaksi di antara penilaian them.a lengkap dan program pengobatan harus menjelaskan masing-masing modalitas ID BASIC, yang merupakan peta kognitif menghubungkan setiap aspek dari kepribadian. tabel 9.1 keluar jalur proses ini dengan menggunakan pertanyaan Lazarus biasanya meminta (1989,1997 a, 2000, 2008).
Premis utama dari terapi multimodal adalah bahwa luasnya sering lebih penting daripada mendalam. tanggapan lebih koping klien belajar di theraphy, semakin sedikit besar kemungkinan untuk kambuh (Lazarus.1996a, 2008; Lazarus & Lazarus, 2002). theraphists mengidentifikasi satu masalah tertentu dari setiap aspek dari ID BASIC kerangka sebagai target untuk mengubah dan mengajarkan klien berbagai teknik yang dapat mereka gunakan untuk memerangi pemikiran yang salah, untuk belajar santai dalam situasi stres dan untuk memperoleh keterampilan interpersonal yang efektif. klien kemudian dapat menerapkan keterampilan ini untuk berbagai masalah dalam kehidupan sehari-hari mereka
Pemeriksaan pendahuluan dari kerangka BASIC.ID memunculkan beberapa tema sentral dan signifikan yang kemudian dapat dieksplorasi secara produktif dengan menggunakan kuesioner kehidupan sejarah rinci. (lihat Lazarus dan Lazarus, 1991, untuk persediaan hidup sejarah multimodal). sekali profil utama BASIC.ID seseorang telah ditetapkan, langkah berikutnya terdiri dari pemeriksaan bagaimana Dr Lazarus menerapkan model penilaian BASIC.ID dengan kasus Ruth, bersama dengan contoh dari berbagai teknik yang dia gunakan, lihat kasus pendekatan untuk konseling dan psychotheraphy (Corey, 2009a, chap.7)
Kesadaran dan Penerimaan berbasis Terapi Kognitif Perilaku
Selama dekade terakhir, “gelombang ketiga” terapi perilaku telah berkembang, yang berakibat pada perluasan tradisi perilaku. kesadaran adalah proses yang melibatkan semakin jeli dan menyadari rangsangan eksternal dan internal pada saat kini dan mengadopsi sikap terbuka ke arah menerimaapa yang bukan dilihat situasi sekarang (Kabat-Zinn, Segal, Williams, & Teasdale, 2002). inti dari kesadaran adalah menjadi sadar akan pikiran seseorang dari satumomen ke momen berikutnya dengan penerimaan yang lembut (Germer, Siegel, &Fulton, 2005). Dalam kesadaran klien praktek melatih diri mereka untuk fokus pada pengalaman mereka. akseptasi adalah proses yang melibatkan dengan menerima pengalaman  seseorang saat ini tanpa menghakimi atau preferensi, tetapi dengan rasa ingin tahu dan kebaikan, dan berjuang untuk penuh kesadaran pada saat kini (Germer,2005b). pendekatan kesadaran dan penerimaan adalah jalan yang baik untuk integrasispiritualitas dalam proses konseling.
Tempat pendekatan utama dalam pengembangan terbaru dari tradisi perilaku meliputi (1)perilaku dialektis terapi (Linehan, 1993a, 1993b), yang telah menjadi suatu yang diakui untuk pengobatan gangguan kepribadian, (2) kesadaran pengurangan stres berbasis (Kabat-Zinn, 1990), yang melibatkan 8 – sampai 10 minggu program kelompokmenerapkan teknik-teknik kesadaran untuk mengatasi stres dan meningkatkan kesehatan fisik dan psikologis, (3) kesadaran berdasarkan terapi kognitif (Segal et al,2002), yang ditujukan terutama pada mengobati. depresi, dan (4) menerima dan terapikomitmen (Hayes, Strosahl, & Houts, 2005; Hayes, Strosahl, & Wilson, 1991), yang didasarkan pada klien mendorong untuk menerima, menerima daripada berusaha untukmengontrol atau mengubah, sensasi yang tidak menyenangkan . perlu dicatat bahwa keempat pendekatan ini didasarkan pada data empiris, ciri dari tradisi perilaku.
Terapi perilaku dialektis (DBT) yang dikembangkan untuk membantu klien mengatur emosi dan perilaku terkait dengan depresi, perlakuan yang paradoks membantu klienuntuk menerima pengalaman emosional mereka (Morgan, 2005). praktek akseptasi melibatkan kejadian yang ada pada saat sekarang, melihat kenyataan sebagaimana adanya tanpadistorsi, tanpa penilaian, tanpa evaluasi, dan tanpa mencoba untuk bertahan padapengalaman atau untuk menyingkirkan itu. melibatkan sepenuhnya ke dalam kegiatan pada saat kini tanpa memisahkan diri dari peristiwa yang sedang berlangsungdan interaksi.
Dirumuskan oleh Linehan (1993a, 1993b), DBT adalah campuran yang menjanjikan dariteknik perilaku dan psikoanalitik untuk mengobati gangguan perbatasan. seperti terapi analitik, DBT menekankan pentingnya hubungan psikoterapi, validasi klien. Pentingnya etiologi dari klien yang telah mengalami “lingkungan yang menyangkal” seperti seorang anak, dan konfrontasi perlawanan. komponen utama dari DBT adalah mempengaruhi regulasi, gangguan toleransi, perbaikan dalam hubungan interpersonal, dan pelatihan kesadaran. DBT mempekerjakan teknik perilaku, termasuk bentuk terapi terpapar di mana klien belajar untuk menoleransi emosi yang menyakitkan tanpa memberlakukan perilaku merusak diri. DBT yang mengintegrasikan kognitif behaviorisme tidak hanya dengan konsep analitik tetapi juga dengan pelatihan kesadaran dari “eastern psychological and spiritual practices (praktek terutama Zen)” (Linehan, 1993b, hal. 6).
Keterampilan DBT pelatihan bukan pendekatan”quick fix”. Umumnyamelibatkan minimal satu tahun pengobatan dan meliputi baik terapi individu dan pelatihan keterampilan dilakukan dalam kelompok. DBT membutuhkan kontrak perilaku.untuk kompeten berlatih DBT, adalah penting untuk mendapatkan pelatihan dalam pendekatan ini.

MINDFULNESS BASED STRESS REDUCTION (MBSR)
Keterampilan yang diajarkan dalam programMBSR termasuk meditasi dan yoga selama sadar, yang bertujuan menumbuhkankesadaran. program ini mencakup meditasi tubuh  yang membantu klien untuk mengamati semua sensasi dalam tubuh mereka. sikap kesadaran didorong dalam setiap aspek kehidupan sehari-hari termasuk berdiri, berjalan, dan makan. kedua orang itu terlibat dalam program ini didorong untuk berlatih meditasi kesadaran resmi selama 45 menit setiap hari. program MBSR terutama dirancang untuk mengajarkan peserta untuk berhubungan dengan sumber eksternal dan internal dari stres dengan cara yangkonstruktif. program ini bertujuan untuk mengajar orang bagaimana untuk hidup lebih lengkap di masa sekarang daripada merenungkan tentang masa lalu atau menjaditerlalu khawatir tentang masa depan.

ACCEPTANCE  AND  COMMITMENT  THERAPY (ACT)
Pendekatan lain kesadaran berbasis menerima dan terapi komitmen (Hayes dkk, 1999, 20050., yang melibatkan secara penuh menerima pengalaman saat ini dan penuh perhatian melepaskan hambatan. dalam pendekatan ini “penerimaan bukan hanya toleransi melainkan adalah nonjudmental aktifmerangkul pengalaman di sini dan sekarang “(Hayes, 2004, hal. 32). menerima adalah sikap atau postur dari mana untuk melakukan terapi dan dari mana klien dapatmelakukan kehidupan (Hayes & Pankey, 2003) bahwa memberikan alternatif untukbentuk-bentuk kontemporer dari terapi perilaku kognitif (Eifert & Forsyth, 2005)berbeda dengan pendekatan perilaku kognitif dibahas dalam bab 10, di mana kognisiditantang atau diperdebatkan, dalam ACT kognisi diterima.. klien belajar bagaimanamenerima pikiran dan perasaan mereka mungkin telah mencoba untuk menolak. Hayestelah menemukan bahwa kognisi maladaptif yang menantang sebenarnya memperkuatbukan mengurangi fleksibilitas. nilai merupakan bagian dasar dari proses terapi, danpraktisi ACT mungkin bertanya klien “apa yang Anda inginkan dalam hidup bertahan? “.
Selain penerimaan, komitmen untuk bertindak sangat penting. komitmen melibatkan membuat keputusan sadar tentang apa yang penting dalam hidup dan apa yang orang bersedia melakukan hidup dihargai (Wilson, 2008). ACT memanfaatkan pekerjaan rumah nyata dan latihan perilaku sebagai cara untuk membuat pola yang lebih besar dari tindakan efektif yang akan membantu klien hidup dengan nilai-nilai mereka (Hayes, 2004). misalnya, pada bentuk pekerjaan rumah yang diberikan kepada klien yang meminta mereka untuk menuliskan tujuan hidup atau hal yang mereka nilai dalam berbagai aspek kehidupan mereka. fokus ACT adalah memungkinkan pengalaman untuk datang dan pergi sementara mengejar kehidupan yang bermakna. menurut Hayes dan Pankey (2003), “ada dasar bukti yang berkembang bahwa menerima keterampilan penting bagi psikologis kesejahteraan dan dapat meningkatkan dampak dari psikoterapi dengan berbagai macam klien” (hal. 8).
ACT adalah bentuk efektif dari terapi (Eifert & Forsyth, 2005) yang terus mempengaruhi praktek terapi perilaku. Germer (2005a) menyarankan “kesadaran mungkin menjadi konstruk teori yang menarik klinis, penelitian, dan praktek dekat bersama-sama, dan membantu mengintegrasikan kehidupan pribadi dan profesional dari terapis”(hal.11).menurut wilson (2008), ACT menekankan proses umum

Read Full Post »

TERAPI PSIKOLOGI

Psikoterapi Untuk Gangguan Borderline

Ada enam jenis psikoterapi untuk gangguan borderline yang memiliki bukti penelitian efektivitas, antara lain:

1. Terapi Perilaku dialektis (DBT)

2. Mentalization Berbasis Terapi (MBT)

3. Transferensi Psikoterapi Terfokus (TFP)

4. Skema-Terfokus Terapi (SFT)

5. Umum Psikiatri Manajemen (GPM)

  6. Sistem Pelatihan untuk Prediktabilitas Emosional dan Pemecahan Masalah

    (STEPPS; Group)

 Tujuan terapi pada masing-masing fase, adalah:

Tahap 1

Pada Tahap 1, psikoterapi melengkapi tujuan utama untuk mencapai manajemen pengobatan yang optimal dari gejala paling menyedihkan dan diarahkan pada fitur umum dari gangguan borderline. Oleh karena itu, tujuan utama terapi di Tahap ini adalah:      

 ● Meningkatkan keselamatan

 ● Meminimalkan ancaman terhadap kepatuhan pengobatan dan partisipasi teratur dalam   terapi

 ● Mengurangi perilaku impulsif dan berbahaya yang merugikan diri sendiri

 ● Mendiagnosa dan mengobati segera semua co-terjadi gangguan, gangguan zat terutama penggunaan dan eisodes depresi utama

 ● Meningkatkan dasar perawatan diri misalnya, makan, tidur, perawatan dan kegiatan rutin sehari-hari

 ● Memvalidasi perasaan, dan

 ● Meningkatkan motivasi

 Tahap 2

Pada Tahap 2, Terapi bergeser secara bertahap dengan tujuan dan metode terapi dari yang umum untuk mengatasi gejala khusus dan tingkat fungsi. Misalnya, tujuan mungkin termasuk banyak dari yang berikut:

 ● Memvalidasi perasaan; meningkatkan pengakuan manajemen mereka dengan terlibat dalam perubahan yang sesuai dalam sikap dan perilaku   

● Meningkatkan keselamatan dengan mengembangkan metode yang efektif perilaku alternatif untuk menangani masalah

● Mengurangi perilaku impulsif dan berbahaya, terutama mereka yang merugikan diri sendiri dan bunuh diri

● Mengidentifikasi, kemudian memodifikasi persepsi yang tidak akurat dan pola pikir, seperti split-berpikir

● Meningkatkan keterampilan interpersonal dan kualitas hubungan

● Meningkatkan harga diri dan mengurangi keputusasaan

● Belajar keterampilan baru cukup baik memanfaatkan mereka secara rutin

Sebagaimana disebutkan di atas, tujuan jangka pendek dan jangka panjang tertentu dan metode batas gangguan khusus psikoterapi bervariasi dari satu jenis terapi yang lain. Idealnya, terapis akan dapat dengan mudah berpindah dari strategi satu metode yang lain dalam kecerdasan sesuai kebutuhan.

 Dialektis Perilaku Terapi

Terapi perilaku dialektis (DBT) merupakan modifikasi dari CBT . Ini dikembangkan awalnya untuk pasien dengan gangguan borderline , terutama yang terlibat dalam perilaku merusak diri sendiri dan merugikan diri sendiri sering. DBT didasarkan pada konsep bahwa gejala gangguan borderline adalah hasil dari gangguan biologis yang melekat pada  mekanisme otak yang mengatur respon emosional. Hasil perilaku awal gangguan ini diperbesar sebagai anak berinteraksi dengan orang tua dan orang lain yang tidak mengerti dan memvalidasi (mengakui dan menerima) tingkat rasa sakit emosional anak, dan yang tidak membantu anak untuk belajar keterampilan yang efektif untuk mengatasi dia atau penderitaannya. 

  • Sasaran perilaku utama DBT adalah:
  • Penurunan perilaku bunuh diri,
  • Mengurangi perilaku tersebut yang mengganggu terapi dan kualitas hidup,
  • Meningkatkan keterampilan perilaku,
  • Mengurangi perilaku yang berkaitan dengan posting stres traumatik

Mentalization Berbasis Terapi (MBT)

MBT dikembangkan oleh Bateman dan Fonagy sebagai pengobatan spesifik untuk gangguan borderline. Diusulkan bahwa orang dengan gangguan borderline terbatas dalam kemampuan mereka untuk konsep (mentalize). MBT didasarkan pada pemahaman  tentang dasar neurobiologis dari sistem otak yang mendasari gejala dan perilaku yang merupakan ciri khas dari gangguan ini. 

Penggunaan klinis MBT ditandai sebagai memiliki empat fitur utama:

1) Terapis memfokuskan secara eksklusif pada pasien, perasaan pikiran, keinginan

2) Terapis menghindari diskusi yang tidak terkait dengan realitas subyektif

3) Penciptaan dalam terapi iklim di mana pikiran dan perasaan dapat dianggap

4) Pemahaman yang disempurnakan perasaan dan pikiran. Praktek MBT oleh terapis ditingkatkan oleh ketersediaan pedoman khusus dan bahan pelatihan lainnya dalam buku mereka.

Diusulkan bahwa MBT mungkin paling dekat dengan TFP dalam orientasi untuk keadaan mental dalam konteks lampiran. Untuk mendukung hal ini adalah penelitian menemukan bahwa mentalization lampiran terkait (kapasitas reflektif) membaik pada TFP, tapi tidak dalam DBT atau SPP.

Transferensi Terfokus Psikoterapi (TFP)

TFP adalah bentuk tertentu dari psikoterapi psikodinamik yang telah dikembangkan secara khusus untuk pasien dengan gangguan borderline. Sebuah ciri khusus dari TFP, berbeda dengan pengobatan lain untuk gangguan borderline, adalah keyakinan bahwa gangguan psikologis dalam struktur kepribadian mendasari gejala spesifik dari gangguan Gangguan ini. membagi persepsi individu menjadi ekstrem buruk dan baik split, yang menentukan cara mereka mengalami sendiri dan orang lain. Singkatnya, dia menentukan pengalaman mereka tentang realitas. Perawatan di TFP awalnya berfokus pada pengaturan dengan pasien perjanjian perilaku yang berkaitan dengan ancaman kemungkinan yang mungkin terjadi dalam proses pengobatan, baik untuk pengobatan dan untuk kesejahteraan mereka . Terapi kemudian pindah ke memodifikasi gangguan psikologis primer dan mengurangi gejala, terutama dengan memeriksa, memahami dan meningkatkan interaksi pasien dengan terapis.

Skema-Terfokus Terapi (SFT)

SFT secara khusus dikembangkan untuk mengobati gangguan borderline. Tidak seperti jenis lain dari terapi untuk gangguan ini, ia menawarkan integrasi terstruktur teknik terapi perilaku psikodinamik, mendukung dan kognitif. SFT didasarkan pada premis bahwa orang dengan gangguan borderline memiliki struktur kepribadian lebih kaku, masalah psikologis kronis dan sistem kepercayaan sangat dipegang tapi tidak akurat dibandingkan mereka yang tanpa gangguan. Di antara gejala yang paling sulit adalah perubahan yang sangat cepat dalam suasana hati dari cinta untuk membenci dan lebar total dan keparahan dari semua gejala yang dilaporkan. 

Sistem Pelatihan untuk Prediktabilitas Emosional dan Problem Solving (STEPPS)

STEPPS adalah rawat jalan kelompok perlakuan program yang dikembangkan pada tahun 1995 oleh Nancee Blum untuk melengkapi, tetapi tidak mengganti, pengobatan lain (s) seperti psikoterapi individual dan obat untuk pasien dengan gangguan borderline. Tujuan yang dinyatakan STEPPS adalah untuk:

            ● Sepenuhnya manualized

● Mudah diajarkan dan diterapkan di berbagai pengaturan

● Menyediakan konten yang spesifik / metode untuk setiap sesi

Secara konseptual, dalam gangguan STEPPS perbatasan dipandang sebagai gangguan regulasi emosi dan perilaku, termasuk gangguan persepsi seperti berpikir semua atau tidak sama sekali (membelah). Ini dikembangkan untuk mengatasi gejala utama dari gangguan, dan untuk menghindari keterbatasan DBT dan MBT. DBT membutuhkan komitmen waktu yang lebih besar (2 ½ jam per minggu dari pelatihan keterampilan selama satu tahun ditambah satu jam dengan terapis DBT dilatih oleh pengembangnya dibandingkan dengan jam 2 setiap sesi kelas minggu STEPPS lebih dari 20 minggu ditambah perawatan dengan ahli terapi saat ini.

Sumber:

http://www.a-beautifulmind.com/2011/12/12/gangguan-kepribadian-borderline-gkb/

http://www.bpddemystified.com/index.asp?id=22

Read Full Post »

Pengertian psikologi lintas budaya

Psikologi lintas budaya adalah kajian mengenai persamaan dan perbedaan dalam fungsi individu secara psikologis, dalam berbagai budaya dan kelompok etnik; mengenai hubungan-hubungan di antara budaya psikologis dan sosio-budaya, ekologis, dan ubahan biologis; serta mengenai perubahan-perubahan yang berlangsung dalam budaya-budaya tersebut. Sedangkan  pendapat beberapa ahli , yaitu: Segall, Dasen dan Poortinga, psikologi lintas-budaya adalah kajian mengenai perilaku manusia dan penyebarannya, sekaligus memperhitungkan cara perilaku itu dibentuk dan dipengaruhi oleh kekuatan-kekuatan sosial dan budaya. Definisi ini mengarahkan perhatian pada dua hal pokok: keragaman perilaku manusia di dunia dan kaitan antara perilaku terjadi. Definisi ini relatif sederhana dan memunculkan banyak persoalan. Sejumlah definisi lain mengungkapkan beberapa segi baru dan menekankan beberapa kompleksitas:  Riset lintas-budaya dalam psikologi adalah perbandingan sistematik dan eksplisit antara variabel psikologis di bawah kondisi-kondisi perbedaan budaya dengan maksud mengkhususkan antesede-anteseden dan proses-proses yang memerantarai kemunculan perbedaan perilaku.

Hubungan psikologi lintas budaya dengan ilmu lain

Hubungan psikologi lintas budaya dengan ilmu lain dapat dikatakan seperti simbiosis mutualisme, yaitu saling membantu, saling mengisi satu sama lain.

  • Sosiologi adalah ilmu yang mempelajari tentang perilaku hubungan antar individu, dan antar individu dan kelompok dalam perilaku social. Melihat pengertian sosiologi jelas hubungan psikologi lintas budaya dan sosiologi amat erat. Lalu seiring berjalannya waktu kita lebih mudah mengatakan psikologi lintas budaya karena kita melihat hubungan yang erat antar kedua ilmu tsb. Psikologi lintas budaya mempelajari mengenai persamaan dan perbedaan dalam fungsi individu secara psikologis, dalam berbagai budaya dan kelompok etnik; mengenai hubungan-hubungan di antara budaya psikologis dan sosio-budaya, ekologis, dan ubahan biologis; serta mengenai perubahan-perubahan yang berlangsung dalam budaya-budaya tersebut.  objeknya pada individu tersebut. Psikologi lintas budaya dan Sosiologi sama- sama mempelajari perilaku hubungan antar individu.
  • Menurut kamus Bahasa Indonesia, antropologi adalah ilmu yang mempelajari tentang asal- usul manusia, kepercayaannya, bentuk fisik, warna kulit, dan budayanya di masa silam. Karena eratnya hubungan psikologi dan antropologi sehingga muncullah sub ilmu yang salah satunya bernama anthropology in mental health, pada sub ilmu ini sangat terlihat bahwa psikologi dan antropologi saling terkait, seperti contoh bahwa penyakit jiwa tidak sepenuhnya dipengaruhi oleh kelainan biologis namun juga oleh emosi atau mental yang tertekan sehingga membuat orang tersebut mengalami penyakit jiwa, keadaan jiwa manusia itu tergantung pada aspek- aspek social budaya.
  • Filsafat adalah hasil akal manusia yang mencari dan memikirkan suatu kebenaran yang sedalam- dalamnya. Sebenarnya psikologi adalah salah satu bagian dari filsafat. Jadi psikologi dengan filsafat hubungannya sangat erat karena psikologi merupakan bagian dari ilmu filsafat.

Etnosentrisme dalam psikologi lintas budaya

Etnosentrime  merupakan suatu sumber utama perbedaan budaya dalam bentuk sikap. Setiap individu atau kelompok individu cenderung memandang orang lain secara tidak sadar dengan menggunakan criteria kelompok sendiri, memandang kelompok sendiri sebagai pusat alam semesta yang mempengaruhi interaksi interkultural. Etnosentrisme membuat kebudayaan diri sebagai patokan dalam mengukur baik buruknya, atau tinggi rendahnya dan benar atau ganjilnya kebudayaan lain  dalam proporsi kemiripannya dengan kebudayaan sendiri, adanya. kesetiakawanan yang kuat dan tanpa kritik pada kelompok etnis atau bangsa sendiri disertai dengan prasangka terhadap kelompok etnis dan bangsa yang lain. Orang-orang yang berkepribadian etnosentris cenderung berasal dari kelompok masyarakat yang mempunyai banyak keterbatasan baik dalam pengetahuan, pengalaman,  maupun komunikasi.

 

Persamaan dan perbedaan antara budaya dalam hal transmisi budaya melalui  enkulturasi dan Sosialisasi.

Enkulturasi atau pembudayaan adalah proses mempelajari dan menysuaikan alam pikiran dan sikap individu dengan sistem norma, adat, dan peraturan-peraturan yang hidup dalam kebudayaannya. Proses ini berlangsung sejak kecil, mulai dari lingkungan kecil (keluarga) ke lingkungan yang lebih besar (masyarakat). Misalnya anak kecil menyesuaikan diri dengan waktu makan dan waktu minum secara teratur, mengenal ibu, ayah, dan anggota-anggota keluarganya, adat, dan kebiasaan-kebiasaan yang berlaku dalam keluarganya, dan seterusnya sampai ke hal-hal di luar lingkup keluarga seperti norma, adat istiadat, serta hasil-hasil budaya masyarakat.

Dalam masyarakat ia belajar membuat alat-alat permainan, belajar membuat alat-alat kebudayaan, belajar memahami unsur-unsur budaya dalam masyarakatnya. Pada mulanya, yang dipelajari tentu hal-hal yang menarik perhatiannya dan yang konkret. Kemudian sesuai dengan perkembangan jiwanya, ia mempelajari unsur-unsur budaya lainnya yang lebih kompleks dan bersifat abstrak.

Di samping enkulturasi, terdapat sosialisasi. Sosisalisasi adalah proses pemasyarakatan, yaitu seluruh proses apabila seorang individu dari masa kanak-kanak sampai dewasa, berkembang, berhubungan, mengenal, dan menyesuaikan diri dengan individu-individu lain dalam masyarakat. Menurut Soerjono Soekanto, sosialisasi adalah suatu proses di mana anggota masyarakat baru mempelajari norma-norma dan nilai-nilai masyarakat di mana ia menjadi anggota.

Di mana-mana, di berbagai kebudayaan, sosialisasi tampak berbeda-beda tetapi juga sama. Meskipun caranya berbeda, tujuannya sama, yaitu membentuk seorang manusia menjadi dewasa. Proses sosialisasi seorang inndividu berlangsung sejak kecil. Mula-mula mengenal dan menyesuaikan diri dengan individu-individulain dalam lingkungan terkecil (keluarga), kemudian dengan teman-teman sebaya atau sepermainan yang bertetangga dekat, dengan saudara sepupu, sekerabat, dan akhirnya dengan masyarakat luas.

Persamaan dan perbedaan antar budaya dalam hal transmisi budaya melalui masa remaja

Remaja adalah waktu manusia berumur belasan tahun. Pada masa remaja manusia tidak dapat disebut sudah dewasa tetapi tidak dapat pula disebut anak-anak. Masa remaja adalah masa peralihan manusia dari anak-anak menuju dewasa.

Remaja merupakan masa peralihan antara masa anak dan masa dewasa yang berjalan antara umur 12 tahun sampai 21 tahun.

Pada dasarnya remaja memiliki semangat yang tinggi dalam aktivitas yang digemari. Mereka memiliki energi yang besar, yang dicurahkannya pada bidang tertentu, ide-ide kreatif terus bermunculan dari pikiran mereka. Selain itu, remaja juga memiliki rasa ingin tahu terhadap hal-hal yang terjadi di sekitarnya. Untuk menuntaskan rasa ingin tahunya, mereka cenderung menggunakan metode coba-coba. Sebagai contoh, ketika berkembang sistem belajar yang menyenangkan atau disebut Quantum Learning, remaja cenderung mencoba hal tersebut. Namun hal ini tidak terbatas hanya pada budaya yang bersifat positif, tapi juga pada budaya negatif. Misalnya, ketika berkembang budaya “clubbing” di kota-kota besar, sebagian besar remaja marasa tertarik untuk mencoba, sehingga ketika sudah merasakan kelebihannya, perbuatan itu terus dilakukan.

Selanjutnya yang kedua ialah faktor eksternal. Keluarga berperan penting dalam membimbing remaja untuk menentukan yang baik atau tidak untuk dilakukan. Orang tua memegang peranan utama didalam sebuah keluarga. Segala tindakanya akan berpengaruh besar terhadap perkembangan fisik dan psikis anak. Remaja dengan orang tua yang memperhatikan mereka cenderung dapat memilah pergaulan yang berdampak positif atau negatif bagi mereka. Kemudian, lingkungan turut mempengaruhi pergaulan.

Untuk mengantisipasi dampak tersebut, Remaja seharusnya dapat memilah dan menyaring perkembangan budaya saat ini, jangan menganggap semua pengaruh yang berkembang saat ini semuanya baik, karena belum pasti budaya barat tersebut diterima dan dianggap baik oleh Budaya Timur kita.

 

      Persamaan dan perbedaan antar budaya dalam hal transmisi melalui perkembangan moral

Perkembangan sosial merupakan proses perkembangan kepribadian siswa selaku seorang anggota masyarakat dalam berhubungan dengan orang lain. Perkembangan ini berlangsung sejak masa bayi hingga akhir hayat. Perkembangan merupakan suatu proses pembentukan social self (pribadi dalam masyarakat), yakni pembentukan pribadi dalam keluarga, bangsa dan budaya. Perkembangan sosial hampir dapat dipastikan merupakan perkembangan moral, sebab perilaku moral pada umumnya merupakan unsur fundamental dalam bertingkah laku sosial. Seorang siswa hanya akan berperilaku sosial tertentu secara memadahi apabila menguasai pemikiran norma perilaku moral yang diperlukan untuk menguasai pemikiran norma perilaku moral yang diperlukan.

proses perkembangan sosial dan moral selalu berkaitan dengan proses belajar. Konsekuensinya, kualitas hasil perkembangan sosial sangat bergantung pada kualitas proses belajar (khususnya belajar sosial), baik dilingkungan sekolah, keluarga, maupun di lingkungan masyarakat. Hal ini bermakna bahwa proses belajar sangat menentukan kemampuan siswa dalam bersikap dan berperilaku sosial yang selaras dengan norma moral, agama, moral tradisi, moral hukum, dan norma moral yang berlaku dalam masyarakat.

Secara kebahasaan perkataan moral berasal dari ungkapan bahasa latin yaitu mores yang merupakan bentuk jamak dari perkataan mos yang berarti adat kebiasaan. Dalam kamus umum bahasa Indonesia dikatakan bahwa moral adalah penentuan baik buruk terhadap perbuatan dan kelakuan. Istilah moral biasanya dipergunakan untuk menentukan batas-batas suatu perbuatan.

Tokoh yang membahas mengenai moral yaitu Kohlberg (Orang kultur Barat yang terdidik, elit, berkulit putih, dan pria) memandang otonomi dan keadilan individu sebagai nilai moral yang utama. Ia bahkan menyamakan moralitas dengan keadilan (dengan mengabaikan nilai moral lain seperti keberanian, pengendalian-diri, empati, dll.). Para anggota kelas pekerja dan kelas pedesaan, bagaimanapun, cenderung untuk memiliki pendekatan yang lebih  komunitarian terhadap hidup. Namun ada tokoh lain yang mengeritik Kohlberg salah satunya dalam hal budaya. Berkritik pemahaman moral lebih bersifat budaya dan sistem penilaian Kohlberg tidak mengenali pemahaman moral yang lebih tinggi pada kelompok budaya tertentu. Contoh pemahaman moral yang tidak diukur oleh system Kohlberg adalah nilai-nilai yang berhubungan dengan kesetaraan komunal dan kebahagiaan kolektif seperti di Israel, kemanunggalan dan kekeramatan segala aspek kehidupan di India. Kohlberg tidak bisa mengukur hal-hal tersebut diatas karena teori kohlberg tidak menekankan hak individu dan prinsip-prinsip abstrak tentang keadilan. Kesimpulan, pemahaman moral lebih dibentuk oleh nilai dan keyakinan dalam sebuah budaya.

 

Persamaan dan perbedaan antar budaya dalam hal transmisi budaya melalui konteks sosial dan masyarakat

Masyarakat didefinisikan oleh Ralph Linton sebagai “setiap kelompok manusia yang telah hidup dan bekerja bersama cukup lama sehingga mereka dapat mengatur diri mereka dan menganggap diri mereka sebagai satu kesatuan sosial dengan batas-batas yang dirumuskan dengan jelas”. Sejalan dengan definsi dari Ralph Linton, Selo Sumardjan mendefinisikan masyarakat sebagai “orangorang yang hidup bersama, yang menghasilkan kebudayaan” (Soerjono Soekanto, 1986). Mengacu kepada dua definisi tentang masyarakat seperti dikemukakan di atas, dapat di identifikasi empat unsur yang mesti terdapat di dalam masyarakat, yaitu:

1) Manusia (individu-individu) yang hidup bersama,

2) Mereka melakukan interaksi sosial dalam waktu yang cukup lama.

3) Mereka mempunyai kesadaran sebagai satu kesatuan.

4) Mereka merupakan suatu sistem hidup bersama yang menghasilkan kebudayaan.

 

Terdapat hubungan dan saling mempengaruhi antara individu, masyarakat dan kebudayaannya. Individu, masayarakat dan kebudayaannya tak dapat dipisahkan. Hal ini sebagaimana Anda maklumi bahwa setiap individu hidup bermasyarakat dan berbudaya, adapun masyarakat itu sendiri terbentuk dari individu-individu. Masyarakat dan kebudayaan mempengaruhi individu, sebaliknya masyarakat dan kebudayaan dipengaruhi pula oleh individu-individu yang membangunnya.

 

Persamaan dan perbedaan antar budaya dalam hal konformitas, compliance, dan obedience

Konformitas adalah proses dimana seseorang mengubah perilakunya untuk menyesuaikan dengan aturan kelompok. kompliance adalah konformitas yang dilakukan secara terbuka sehingga terlihat oleh umum, walaupun hatinya tidak setuju. Kepatuhan atau obedience merupakan salah satu bentuk ketundukan yang muncul ketika orang mengikuti suatu perintah langsung, biasanya dari seseorang dengan suatu posisi otoritas.

Untuk membandingkan bagaimana conformity, compliance, dan obedience secara lintas budaya, maka telaah itu harus memusatkan perhatian pada nilai konformitas dan kepatuhan itu sebagai konstruk sosial yang berakar pada budaya. Dalam budaya kolektif, konformitas dan kepatuhan tidak hanya dipandang “baik” tetapi sangat diperlukan untuk dapat berfungsi secara baik dalam kelompoknya, dan untuk dapat berhasil menjalin hubungan interpersonal bahkan untuk dapat menikmati status yang lebih tinggi dan mendapat penilaian atau kesan positif.

 

Persamaan dan perbedaan antar budaya dalam hal transmisi budaya  dalam hal nilai-nilai

Lintas budaya mengenai nilai-nilai baik kemasyarakatan maupun perseorangan tergolong baru nilai merupakan gambaran yang dipegang oleh perseorangan atau secara kolektif oleh anggota kelompok, yang mana dapat diinginkan dan mempengaruhi baik pemaknaan dan tujuan tindakan diantara pilihan-pilihan yang ada.

Dalam psikologi lintas budaya nilai dimasukkan sebagai salah satu aspek dari budaya atau masyarakat. Nilai muncul menjadi ciri khas yang cenderung menetap pada seseorang dan masyarakat dan karenanya penerimaan nilai berpengaruh pada sifat kerpibadian dan karakter budaya.

Nilai-nilai budaya merupakan nilai- nilai yang disepakati dan tertanam dalam suatu masyarakat, lingkup organisasi, lingkungan masyarakat, yang mengakar pada suatu kebiasaan, kepercayaan (believe), simbol-simbol, dengan karakteristik tertentu yang dapat dibedakan satu dan lainnya sebagai acuan prilaku dan tanggapan atas apa yang akan terjadi atau sedang terjadi.

Nilai-nilai budaya akan tampak pada simbol-simbol, slogan, moto, visi misi, atau sesuatu yang nampak sebagai acuan pokok moto suatu lingkungan atau organisasi.

Ada tiga hal yang terkait dengan nilai-nilai budaya ini yaitu :

  1. Simbol-simbol, slogan atau yang lainnya yang kelihatan kasat mata (jelas)
  2. Sikap, tindak laku, gerak gerik yang muncul akibat slogan, moto tersebut

Kepercayaan yang tertanam (believe system) yang mengakar dan menjadi kerangka acuan dalam bertindak dan berperilaku (tidak terlihat).

 

Persamaan dan perbedaan antar budaya dalam hal transmisi budaya dalam hal individual dan kolektivitas

  • Diri individual

Diri individual adalah diri yang fokus pada atribut internal yang sifatnya personal; kemampuan individual, inteligensi, sifat kepribadian dan pilihan-pilihan individual. Diri adalah terpisah dari orang lain dan lingkungan.

Budaya dengan diri individual mendesain dan mengadakan seleksi sepanjang sejarahnya untuk mendorong kemandirian sertiap anggotanya. Mereka didorong untuk membangun konsep akan diri yang terpisah dari orang lain, termasuk dalam kerangka tujuan keberhasilan yang cenderung lebih mengarah pada tujuan diri individu.

Dalam kerangka budaya ini, nilai akan kesuksesan dan perasaan akan harga diri megambil bentuk khas individualisme. Keberhasilan individu adalah berkat kerja keras dari individu tersebut.

Diri individual adalah terbatas dan terpisah dari ornag lain. Informasi relevan akan diri yang paling penting adalah atribut-atribut yang diyakini stabil, konstan, personal dan instrinsikdalam diri.

  • Diri kolektifitas

Budaya yang menekankan nilai diri kolektif sagat khas dengan cirri perasaan akan keterkaitan antar manusia satu sama lain, bahkan antar dirinya sebagai mikro kosmos dengan lingkungan di luar dirinya sebagai makro kosmos. Tugas utama normative pada budaya ini adalah bagaimana individu memenuhi dan memelihara keterikatannya dengan individu lain. Individu diminta untuk menyesuaikan diri dengan orang lain atau kelompok dimana mereka bergabung. Tugas normative sepanjang sejarah budaya adalah mendorong saling ketergantungansatu sama lain. Karenanya, diri (self) lebih focus pada atribut eksternal termask kebutuhan dan harapan-harapannya.

Dalam konstruk diri kolektif ini, nilai keberhasilan dan harga diri adalah apabila individu tersebut mampu memenuhi kebutuhan komunitas dan menjadi bagian penting dalam hubungan dengan komunitas. Individu focus pada status keterikatan mereka (interdependent), dan penghargaan serta tanggung jawab sosialnya. Aspek terpenting dalam pengalaman kesadaran adalah saling terhubung antar personal.

Persamaan dan perbedaan antar budaya dalam hal transmisi budaya dalam hal perilaku gender

Gender merupakan kajian tentang tingkah laku dan hubungan sosial antara laki-laki dan perempuan. Gender berbeda dari seks atau jenis kelamin laki-laki dan perempuan yang bersifat biologis. Perbedaan pola sosialisasi ini juga berkaitan dengan beberapa faktor budaya dan faktor ekologi.

Gender merupakan hasil konstruksi yang berkembang selama masa anak-anak sebagaimana mereka disosialisasikan dalam lingkungan mereka. Adanya perbedaan reproduksi dan biologis mengarahkan pada pembagian kerja yang berbeda antara pria dan wanita dalam keluarga. Perbedaan-perbedaan ini pada gilirannya mengakibatkan perbedaan ciri-ciri sifat dan karakteristik psikologis yang berbeda antara pria dan wanita. Faktor-faktor yang terlibat dalam memahami budaya dan gender tidak statis dan unidimensional. Keseluruhan sistem itu dinamis dan saling berhubungan dan menjadi umpan balik atau memperkuat sistem itu sendiri. Sebagai akibatnya sistem ini bukan suatu unit yang linear dengan pengaruh yang berlangsung dalam satu arah, dan semua ini diperoleh dalam kehidupan kita sendiri.

Sebagai konsekuensinya, budaya yang berbeda akan memberikan hasil yang berbeda pula. Satu budaya mungkin mendukung kesamaan antara pria dan wanita, namun budaya lainnya tidak mendukung kesamaan tersebut. Dengan demikian budaya mendefinisikan atau memberikan batasan mengenai peran, kewajiban, dan tanggung jawab yang cocok bagi pria dan wanita.

 

Persamaan dan perbedaan antar budaya dalam hal transmisi budaya dalam hal sosial kognitif

Kognitif diartikan sebagai kegiatan untuk memperoleh, mengorganisasikan dan menggunakan pengetahuan. Dalam psikologi, kognitif adalah referensi dari faktor-faktor yang mendasari sebuah prilaku. Kognitif juga merupakan salah satu hal yang berusaha menjelaskan keunikan manusia. Pola pikir dan perilaku manusia bertindak sebagi aspek fundamental dari setiap individu yang tak lepas dari konsep kemanusiaan yang lebih besar, yaitu budaya sebagai konstruksi sosial. Sedangkan kebudayaan (culture) dalam arti luas merupakan kreativitas manusia (cipta, rasa dan karsa) dalam rangka mempertahankan kelangsunganhidupnya. Manusia akan selalu melakukan kreativitas (dalam arti luas) untuk   memenuhi kebutuhannya (biologis, sosiolois, psikologis) yang diseimbangkan dengan tantangan, ancaman, gangguan, hambatan (AGHT) dari lingkungan alam dan sosialnya.

Ada berbagai hal yang berhubungan dengan keberadaan faktor kognisi dalam pengaruhnya terhadap lintas budaya:

  • Kecerdasan umum
  • Genetic epistemologi (faktor keturunan)
  • Cara berpikir
  • Contextualized coqnition (pengamatan kontekstual)

 

 

 

Daftar Pustaka

http://id.wikipedia.org/wiki/Psikologi_lintas_budaya   29/09/2011

http://edukasi.kompasiana.com/2010/11/02/apa-hubungan-psikologi-dengan-ilmu-lain/   29/09/2011

http://juliardibachtiar.wordpress.com/2011/03/30/enkulturasi-dan-sosialisasi/   29/09/2011

http://id.wikipedia.org/wiki/Remaja  29/09/2011

Http://nurdiniamalia.files.wordpress.com/2009/05/kajian-psikologi-lintas-budaya.doc   30/09/2011

http://id.wikipedia.org/wiki/Nilai-nilai_budaya  29/09/2011

http://abdiplizz.wordpress.com/2011/04/19/perkembangan-moral/   28/09/2011

http://orthevie.wordpress.com/2010/05/29/teori-perkembangan-moral-menurut-kohlberg/  28/09/2011

 

Read Full Post »

Older Posts »

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.